Survei terbaru New York Times/Siena menemukan 64 persen responden meyakini keputusan untuk berperang dengan Iran merupakan keputusan yang salah.
AS, Suarathailand- Xinhua melaporkan konflik Iran tidak populer di kalangan sebagian besar warga Amerika Serikat (AS), sebagaimana sejumlah survei terbaru menunjukkan penentangan yang meluas di seluruh negeri.
Survei terbaru New York Times/Siena menemukan 64 persen responden meyakini keputusan untuk berperang dengan Iran merupakan keputusan yang salah, sejalan dengan hasil jajak pendapat serupa lainnya.
Rosa King (45), seorang pekerja kantoran di luar Washington DC, kepada Xinhua mengatakan bahwa dirinya "kecewa" terhadap seorang presiden yang menurutnya "dikendalikan" oleh Israel.
Brad Garcia (34), seorang karyawan penjual mobil di dekat Washington DC, kepada Xinhua mengatakan bahwa dia meyakini Israel memiliki pengaruh yang terlalu besar terhadap AS.
Selain itu, sejumlah besar pemilih Partai Republik yang lebih muda dan pemilih independen yang cenderung mendukung Partai Republik semakin skeptis terhadap pelaksanaan perang tersebut serta dampak finansial jangka panjangnya, menurut jajak pendapat.
"Trump mengira Iran akan menjadi kemenangan yang cepat dan mudah, dan dia dapat bernegosiasi dengan para pemimpin baru di sana. Namun, tidak satu pun dari hal itu menjadi kenyataan," kata Darrell West, senior fellow di Brookings Institution, kepada Xinhua.
Reaksi penolakan publik muncul akibat tidak adanya tujuan strategis yang jelas serta dampak ekonomi yang parah. Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz telah memicu lonjakan 50 persen harga bahan bakar domestik.
Kenaikan tajam harga bahan bakar tersebut juga telah mendorong tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap kinerja Presiden AS Donald Trump turun ke rekor terendah.
Sementara itu, pada Rabu (20/5), Trump mengeklaim bahwa konflik di Iran hampir berakhir. "Kita sudah memasuki tahap akhir (konflik) Iran," katanya kepada wartawan saat naik ke pesawat Air Force One.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi. Kita mungkin akan mencapai kesepakatan atau melakukan beberapa hal yang agak tidak menyenangkan, tetapi mudah-mudahan itu tidak akan terjadi," lanjut pemimpin AS itu.



