Trump Klaim Amerika dan China Capai Kesepakatan Dagang Fantastis

Klaim Trump itu disampaikan di tengah prediksi kesepakatan dagang yang meliputi pembelian besar-besaran komoditas pertanian AS oleh China.


Beijing, Suarathailand- Sputnik melaporkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya dan Presiden China Xi Jinping telah mencapai sejumlah kesepakatan dagang yang fantastis, tanpa menjelaskan lebih lanjut, saat memulai dialog di hari kedua kunjungannya ke Beijing.

Klaim Trump itu disampaikan di tengah prediksi kesepakatan dagang yang meliputi pembelian besar-besaran komoditas pertanian AS oleh China.

Trump mengatakan dia dan Xi memiliki posisi yang sama terkait perlunya mengakhiri perang di Iran dan membuka Selat Hormuz.

"Kami membahas begitu banyak hal lain kemarin dan kami sepertinya sudah saling sepakat," kata Trump.

Xi menjamu Trump di kompleks Zhongnanhai, yang menjadi markas besar kepemimpinan Partai Komunis China, dengan diskusi antara keduanya berlanjut hingga jamuan siang.

Xi menyebut kunjungan Trump kali ini adalah peristiwa yang "bersejarah".

Perbincangan mereka pada Jumat berlangsung setelah mereka berdiskusi selama lebih dari dua jam pada Kamis (14/5) dengan beberapa isu mengenai perdagangan, masa depan Taiwan, dan perang AS-Israel melawan Iran.

Dalam wawancaranya bersama Fox News, Trump mengatakan China setuju membeli 200 pesawat buatan Boeing.

Kemudian terkait perang Iran, Trump mengatakan Xi menawarkan bantuan untuk membuka Selat Hormuz, sebagai titik lalu lintas energi yang penting, serta berjanji tidak menyuplai peralatan militer ke Teheran.

Adapun Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China pada Jumat mengatakan penting untuk membuka jalur pelayaran sedini mungkin demi menjawab seruan komunitas internasional serta bersama-sama memastikan rantai pasok global yang stabil dan tak terganggu.

Beijing akan terus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk memberi dukungan lebih kuat bagi dialog perdamaian dan memainkan peran konstruktif dalam mewujudkan perdamaian di Timur Tengah, menurut pernyataan Kemlu China.

Dalam wawancara tersebut, Trump menjuluki AS dan China sebagai "G2", karena keduanya adalah negara besar. Trump pun menyatakan keyakinannya bahwa hal ini akan menjadi momen yang amat penting dalam sejarah.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dalam wawancaranya bersama CNBC, mengatakan AS dan China akan membincangkan suatu badan investasi yang akan bertanggung jawab untuk investasi di sektor non-sensitif.

Meski menjadi rival dalam pengembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI), AS dan China juga setuju mengembangkan protokol demi kemajuan AI yang aman, kata dia.

Dalam kunjungannya ke China, Trump didampingi sejumlah petinggi perusahaan besar AS, seperti Elon Musk dari Tesla, Jensen Huang dari Nvidia, dan Tim Cook dari Apple, yang mengikuti sejumlah mata acara dalam pertemuan tingkat tinggi AS-China.

Pada Kamis (14/5), Perdana Menteri China Li Qiang bertemu perwakilan bisnis AS dan mengungkapkan komitmen Beijing atas keterbukaan bermutu tinggi, dengan harapan semakin banyak perusahaan AS terlibat di pasar China, menurut Kantor Berita Xinhua.


Share: