PM Anutin mengatakan pembicaraan dengan Hun Manet bersifat konstruktif, dengan Thailand dan Kamboja sepakat untuk membangun kepercayaan, menjaga perdamaian, dan mencari keuntungan bersama.
Cebu, Suarathailand- Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Anutin Charnvirakul menghadiri pembicaraan trilateral dengan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. di hotel Shangri-La Mactan di Cebu untuk membahas situasi Thailand-Kamboja.
Pertemuan tersebut diprakarsai oleh Filipina dalam kapasitasnya sebagai ketua ASEAN, menurut Rachada Dhanadirek, juru bicara Kantor Perdana Menteri.
Setelah pembicaraan, para pemimpin mengadakan konferensi pers, dimulai dengan presiden Filipina sebagai ketua ASEAN, diikuti oleh perdana menteri Kamboja dan kemudian perdana menteri Thailand.
Anutin berterima kasih kepada presiden Filipina, sebagai ketua ASEAN, karena telah memprakarsai pertemuan penting tersebut. Ia mengatakan diskusinya dengan perdana menteri Kamboja bersifat konstruktif dan berwawasan ke depan, menambahkan bahwa pembicaraan tersebut jujur dan bermakna.
Pertemuan tersebut merupakan kesempatan penting bagi kedua belah pihak untuk bersama-sama menegaskan kembali komitmen mereka terhadap dialog dan pelestarian perdamaian, katanya.
Perdana Menteri Thailand mengatakan bahwa Thailand dan Kamboja adalah negara tetangga yang terhubung erat di berbagai dimensi. Ia menekankan bahwa konflik membawa kerugian dan kesulitan bagi semua pihak dan semakin menggarisbawahi nilai perdamaian.
Oleh karena itu, sudah saatnya kedua negara untuk melihat ke depan bersama dan membuka babak baru dalam hubungan mereka, katanya. Hal ini membutuhkan ketulusan, itikad baik, dan tekad bersama untuk mengatasi tantangan.
Pada kesempatan ini, Thailand dan Kamboja sepakat untuk menugaskan menteri luar negeri mereka untuk bekerja sama dalam daftar langkah-langkah praktis untuk membangun kepercayaan.
Pekerjaan akan dimulai dengan isu-isu di mana kedua belah pihak memiliki kesamaan dan yang dapat segera ditindaklanjuti. Langkah-langkah tersebut akan berfungsi sebagai mekanisme penting untuk memulihkan kepercayaan dan secara bertahap membangun kembali hubungan bilateral yang kuat.
Anutin menekankan bahwa Thailand dan Kamboja perlu bergerak maju bersama, selangkah demi selangkah dan ke arah yang sama.
Ia mengatakan bahwa selama proses ini, kedua pihak harus berkomunikasi lebih langsung di semua tingkatan untuk membantu mempersempit kesenjangan pemahaman dan bersama-sama mengeksplorasi cara untuk memperluas kerja sama di bidang-bidang yang saling menguntungkan.
Mengenai isu perbatasan darat dan laut, Perdana Menteri Thailand mengusulkan pendekatan untuk pembicaraan guna memajukan masalah tersebut berdasarkan hubungan bertetangga yang baik.
Sebagai penutup, Anutin mengatakan bahwa pembicaraan tersebut menandai langkah penting menuju terciptanya suasana yang kondusif bagi perdamaian dan kerja sama regional.
Ia menegaskan kembali bahwa Thailand siap bekerja secara konstruktif dengan semua pihak berdasarkan pemahaman yang baik, saling menghormati, dan kepentingan bersama rakyat kedua negara dan kawasan yang lebih luas.



