UE ingin meningkatkan kapasitasnya dan mengucurkan dana miliaran untuk apa yang disebut sebagai "gigafactory" AI, yang terdiri dari prosesor AI canggih dan pusat data hemat energi bagi perusahaan serta laboratorium penelitian.
Dublin, Suarathailand- Uni Eropa (UE) berupaya mengejar ketertinggalan dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI) dengan mencontoh langkah Irlandia—negara yang lebih awal mengadopsi teknologi ini dan menyambut hangat kehadiran pusat data, meskipun sempat menuai penolakan dari warga setempat.
Irlandia akan memamerkan peran yang ingin mereka mainkan dalam revolusi teknologi saat menjadi tuan rumah konferensi tingkat tinggi (KTT) AI internasional di ibu kota Dublin pada hari Rabu.
Di saat UE mendorong tata kelola yang kuat untuk membatasi risiko AI yang berkembang tak terkendali, blok tersebut juga meyakini perlunya berinvestasi dan memanfaatkan potensi AI agar tidak semakin tertinggal dari Amerika Serikat dan Tiongkok.
"Kita harus tetap berada dalam perlombaan ini. Karena hal ini krusial bagi kemandirian kita," ujar pemimpin UE, Ursula von der Leyen, bulan lalu.
Para pakar dan eksekutif terkemuka di bidang AI akan menghadiri KTT tersebut, termasuk pimpinan Google DeepMind Demis Hassabis dan presiden Microsoft Brad Smith, serta pejabat tinggi teknologi UE, termasuk Henna Virkkunen.
Sekitar 20% perusahaan di blok yang terdiri dari 27 negara ini menggunakan AI pada tahun lalu, dengan tingkat adopsi mencapai 55% pada perusahaan-perusahaan terbesar—angka yang ingin ditingkatkan oleh UE.
Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan masih menggunakan AI untuk tugas-tugas yang relatif sederhana.
Eropa memiliki sekitar 5% dari kapasitas pusat data dunia, sementara Amerika Serikat memiliki sekitar 75% dan Tiongkok sekitar 15%, menurut Andrea Renda, direktur penelitian di lembaga pemikir CEPS.
UE ingin meningkatkan kapasitasnya dan mengucurkan dana miliaran untuk apa yang disebut sebagai "gigafactory" AI, yang terdiri dari prosesor AI canggih dan pusat data hemat energi bagi perusahaan serta laboratorium penelitian.
Namun, langkah tersebut mungkin belum cukup.
"Jika Anda hanya membangun kapasitas pusat data, Anda belum melakukan banyak hal," ujar Renda kepada AFP, sembari menyerukan perlunya "kepemimpinan politik" untuk membantu "mengidentifikasi hambatan, rintangan, dan faktor pendukung transformasi ini".
UE menegaskan bahwa mereka sedang bergerak di berbagai lini, memobilisasi dana dari berbagai skema yang ada, serta menunjuk seorang eksekutif Siemens untuk mendorong perusahaan manufaktur mengintegrasikan teknologi tersebut melalui strategi yang disebut "Apply AI". Namun, Renda menepis hal itu dengan menyatakan bahwa strategi tersebut memiliki anggaran khusus "nol", seraya memperingatkan bahwa tanpa "intervensi yang berani, kita tidak akan mampu mewujudkannya".
Irlandia—yang telah menjadi rumah bagi banyak raksasa teknologi AS berkat kebijakan pajak yang menarik dan lokasi yang strategis—ingin turut mendorong momentum ini di Eropa.
Akui Dampak AI terhadap Manusia
Perdana Menteri Micheal Martin diperkirakan akan memperjuangkan peran Irlandia sebagai pusat pengembangan AI.
Akan tetapi, meskipun memiliki salah satu tingkat adopsi tertinggi di kawasan tersebut, Irlandia juga memperlihatkan sejumlah kendala dalam upaya Eropa mengembangkan AI.
Ketergantungan yang tinggi pada perusahaan raksasa AS bertolak belakang dengan upaya kedaulatan UE, dan pesatnya pembangunan pusat data memberikan tekanan besar pada infrastruktur Irlandia—terutama jaringan listriknya—sehingga memicu penentangan dari warga setempat.
Badan Pusat Statistik (Central Statistics Office) menyatakan bahwa pusat data menyumbang 23% dari konsumsi listrik negara itu pada tahun lalu—setara dengan total konsumsi seluruh rumah tangga di Irlandia.
"Sebuah rekor dunia," ujar Patrick Bresnihan, seorang peneliti di Universitas Maynooth.
Dalam sebuah "pertemuan tandingan" yang digelar beberapa hari sebelum pertemuan hari Rabu tersebut, ia menyoroti fakta bahwa pusat-pusat data itu hanya mempekerjakan total 3.300 orang.
"Khususnya di Irlandia, menurut saya kita memerlukan moratorium. Jadi, kita perlu menghentikan sementara pembangunan pusat data," ujarnya. Langkah ini bertujuan memberi ruang bagi para pembuat kebijakan "untuk memikirkan seperti apa bentuk strategi industri hijau yang lebih progresif".
Neil Bennett, mantan pekerja sektor teknologi yang menghadiri aksi protes tersebut, mendesak para pemimpin dan pejabat senior Irlandia "untuk mengakui dampak AI terhadap para pekerja di Irlandia".
Mantan penerjemah ini telah merasakan dampak mendalam akibat AI. Setelah kehilangan pekerjaannya karena teknologi tersebut, ia menggambarkan dirinya beralih ke "sisi gelap" dengan bekerja sebagai operator data.
Namun, ia segera merasa kecewa ketika pekerjaan barunya itu justru digantikan—oleh AI.



