Nabi (saw) bersabda, "Tidak ada yang lebih berat timbangan seorang mukmin pada Hari Kiamat selain akhlak yang baik."
Suarathailand- Secara teologis, akhlak yang baik merupakan inti dari pemahaman Islam tentang keselamatan di akhirat. Setiap Muslim, dan setiap manusia, akan dievaluasi pada Hari Kiamat dengan menimbang amal baik dan buruk mereka. Akhlak seorang mukmin termasuk di antara akhlak-akhlak yang paling berat.
Nabi (saw) bersabda, "Tidak ada yang lebih berat timbangan seorang mukmin pada Hari Kiamat selain akhlak yang baik."

Sungguh, akhlak yang baik merupakan salah satu faktor utama seseorang masuk surga. Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi (saw), "Apa yang membuat kebanyakan orang masuk surga?" Nabi (saw) menjawab, "Dzikir kepada Allah (taqwa) dan akhlak yang baik."
Akhlak yang baik dan hubungan yang baik lebih penting daripada ibadah sunah seperti salat sunah dan puasa. Nabi (saw) bersabda kepada para sahabat, "Maukah aku beritahu kalian, apa yang lebih utama daripada puasa, shalat, dan zakat?" Mereka menjawab, "Tentu!" Nabi (saw) bersabda, "Keharmonisan antarmanusia. Sesungguhnya, hubungan yang memburuk antarmanusia bagaikan silet."
Dalam riwayat lain, Nabi (saw) menambahkan, "Kebencian itu bagaikan silet. Aku tidak mengatakan bahwa kebencian itu mencukur rambut, tetapi kebencian itu mencukur agama. Demi tangan Pemilik jiwaku, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai."
Hanya dengan akhlak yang baik, seorang mukmin dapat mencapai derajat di surga yang setara dengan orang yang senantiasa menjalankan kewajiban agamanya dengan penuh pengabdian. Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya, seorang mukmin dapat mencapai derajat yang sama dengan orang yang berpuasa dan shalat malam dengan amal salehnya.”
Sebaliknya, ibadah sunah tidak ada nilainya bagi umat Islam jika mereka terus-menerus berperilaku buruk. Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang wanita shalat malam, berpuasa siang hari, banyak mengerjakan tugas, dan bersedekah, namun ia menyakiti tetangganya dengan lidahnya.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada kebaikan padanya; ia termasuk penghuni neraka.” Laki-laki itu menambahkan, “Wahai Rasulullah, seorang wanita juga shalat wajib dan bersedekah sedikit demi sedikit, namun ia tidak menyakiti siapa pun.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Ia termasuk penghuni surga.”
Bahkan sebagian jamaah yang khusyuk pun akan mendapati amal ibadah mereka batal di akhirat. Karena akhlak dan kebiasaan mereka yang buruk, Nabi Saw bersabda kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapa yang bangkrut?” Mereka menjawab, “Barangsiapa yang tidak memiliki uang dan harta, maka ia bangkrut.” Nabi (saw) bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan mengerjakan salat, puasa, dan bersedekah, namun di saat yang sama ia datang dengan hinaan, fitnah, memakan harta, menumpahkan darah, dan menyakiti orang lain. Orang-orang yang terzalimi akan diberi pahala atas kebaikan mereka. Jika kebaikan mereka habis sebelum keadilan ditegakkan, dosa-dosa mereka akan dilimpahkan kepada mereka dan mereka akan dilemparkan ke dalam api.”
Bahkan ghibah (memfitnah seseorang saat mereka tidak hadir) dapat merusak catatan kebaikan seseorang. Ibnu al-Jauzi berkata, “Wahai saudaraku, waspadalah terhadap ghibah dan fitnah! Keduanya merusak agama dan merusak kebaikan pelakunya.”
Ketika kebenaran iman ini sungguh-sungguh dihargai dan diserap dalam diri orang beriman, hal itu menjadi motivasi filosofis yang kuat untuk tidak menyakiti orang lain dengan perkataan kita. Cara lain untuk memandang iman adalah melihatnya sebagai pohon bercabang banyak. Benihnya adalah pernyataan iman: "Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya." Dan dari benih ini tumbuh buah-buah iman, seperti kasih sayang, keadilan, dan kerendahan hati.
Sebagaimana Allah berfirman: "Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (iman) seperti pohon yang baik, yang akarnya dalam dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu berbuah terus-menerus atas kehendak Tuhannya. Allah telah membuat perumpamaan bagi manusia, agar mereka ingat."
Sebagaimana Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, "Perkataan yang baik" dalam ayat ini adalah "kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah" dan "cabang-cabang yang menjulang ke langit" adalah "amal saleh orang-orang mukmin yang diangkat ke surga". Iman yang sejati adalah akar yang menuai buah dari cabang-cabangnya yang bermanfaat bagi umat manusia."
Nabi Saw sendiri menggambarkan iman memiliki cabang-cabang, dengan bersabda: “Iman memiliki sekitar enam puluh cabang. Cabang yang paling baik adalah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan cabang yang paling kecil adalah menyingkirkan apa pun yang merugikannya. Dan malu adalah salah satu cabang iman.”
Malu (al-hayaa) adalah memiliki rasa malu yang sehat, hati nurani yang peka yang mencegah kita berbuat jahat. Di sisi lain, kejahatan yang berlawanan dengan keutamaan iman adalah cabang kemunafikan. Dalam riwayat lain, Nabi (saw) bersabda: “Malu dan menahan diri adalah dua cabang iman, dan kasar dan sombong adalah dua cabang kemunafikan.”
Kekasaran (al-badah) berasal dari kemunafikan yang bersemayam di dalam hati seseorang. Oleh karena itu, mengucapkan kata-kata kasar dan kasar seperti itu merupakan tanda penyakit rohani ini.
Citra iman sebagai pohon yang bercabang dan berbuah telah berkembang sejak awal sejarah intelektual Islam. Ulama hadis klasik Ahmad al-Bayhaqi menyusun sebuah karya multi-volume tentang subjek tersebut dengan judul “Cabang-Cabang Iman” (Shuaab al-Imān).
Dalam pengantarnya, al-Bayhaqi menulis: “Allah, Maha Terpuji dan Maha Agung Nama-Nya, dengan karunia dan rahmat-Nya, telah memudahkan saya menyusun sebuah buku laporan tentang dasar-dasar agama dan ajaran-ajarannya. Segala puji bagi Allah atas hal ini. Saya ingin menghasilkan sebuah buku yang komprehensif tentang dasar-dasar agama, ajaran-ajarannya, dan laporan-laporan terkaitnya, untuk menjelaskan praktik-praktik baik agama, untuk menginspirasi dan menanamkan rasa takut (terhadap dosa).
Banyak bab dalam buku ini membahas masalah-masalah etika, seperti menuntut ilmu, kasih sayang kepada orang tua, menjaga hubungan keluarga, hak-hak anak dan anggota keluarga lainnya, akhlak yang baik, menghormati tetangga, kesabaran dalam kesulitan, kemurahan hati dan kedermawanan, menjaga lidah dari dosa, mendamaikan antar manusia, menjauhi hal-hal duniawi, dan mencintai orang lain karena apa yang dicintainya.
Mungkin deskripsi paling ringkas tentang karakter seorang mukmin diberikan oleh Hasan al-Basri, penerusnya: Sesungguhnya, dari Karakter seorang mukmin adalah keteguhan dalam beragama, keteguhan hati disertai kesabaran, keimanan disertai keyakinan, kegigihan dalam ilmu.
Lalu kasih sayang disertai pemahaman, kesederhanaan dalam beribadah, kebaikan disertai ketekunan, memberi kepada yang meminta, tidak menzalimi yang dibenci, tidak menzalimi yang dicintai, martabat disertai kebingungan, rasa syukur disertai rasa nyaman, rasa cukup dengan apa yang dimiliki, berbicara dengan pemahaman, diam disertai kehati-hatian, dan menjadi saksi kebenaran atas mereka.
Semua nilai moral ini berakar kuat dalam Islam. Jika seseorang gagal menjalankan cita-cita agama, itu adalah kesalahan orang tersebut, bukan agama itu sendiri.
Singkatnya, akidah Islam harus ditandai dengan akhlak, moralitas, dan niat baik yang baik terhadap semua manusia. Berdasarkan definisi ini, dari perspektif yang luas, mustahil bagi seorang Muslim yang tulus dan berilmu untuk menjadi anggota masyarakat yang buruk, meskipun kita semua melakukan kesalahan dari waktu ke waktu. Semua bentuk ritual keagamaan Islam memperkuat pemahaman tentang akidah ini.




