Tak Mau Rugi, Tak Ada Kapal Tanker Minyak yang Berlayar Melalui Selat Hormuz

Mengutip citra satelit, menunjukkan tidak ada transit baru melalui Hormuz yang tercatat dalam 24 jam terakhir karena Iran memperketat cengkeramannya di selat tersebut.


Teheran, Suarathailand- Data dari layanan pelacakan kapal tanker internasional utama menunjukkan bahwa saat ini tidak ada kapal tanker minyak yang berlayar melalui Selat Hormuz, jalur air utama di Teluk Persia yang bertanggung jawab atas sekitar seperlima permintaan minyak global dan telah berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata Iran sejak awal Maret, beberapa hari setelah dimulainya agresi AS-Israel terhadap negara tersebut.

Data yang dirilis oleh Kpler pada hari Senin, mengutip citra satelit, menunjukkan bahwa tidak ada transit baru melalui Hormuz yang tercatat dalam 24 jam terakhir karena Iran memperketat cengkeramannya di selat tersebut.

Hal ini terjadi ketika komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Laksamana Muda Alireza Tangsiri, mengatakan bahwa pasukan tersebut belum sepenuhnya menutup Selat Hormuz tetapi hanya mengendalikan jalur melaluinya.

Situasi di Hormuz telah menyebabkan harga minyak internasional melonjak ke level yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Reuters melaporkan pada hari Senin bahwa harga telah naik 3% menjadi rata-rata $106 per barel.

Wall Street Journal melaporkan bahwa para CEO perusahaan minyak besar telah menghubungi pemerintahan Presiden AS Donald Trump, memperingatkan bahwa konfrontasi yang berkelanjutan di Teluk Persia dapat memperdalam krisis energi saat ini.

Trump sangat berupaya untuk memulihkan lalu lintas normal melalui Selat Hormuz.

New York Times melaporkan bahwa Trump telah mendesak militer AS untuk merancang solusi setelah sebuah laporan menunjukkan bahwa militer praktis tidak mampu mengendalikan selat strategis tersebut.

Para komandan militer senior AS telah memperingatkan Trump sebelum agresi terhadap Iran bahwa masalah Hormuz dapat menjadi masalah besar dan bahwa militer mungkin tidak mampu menyelesaikannya.

Trump mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial pada akhir pekan bahwa ia telah meminta negara-negara lain untuk mengirim kapal perang ke Teluk Persia untuk mengamankan selat tersebut. Namun, sekutu AS, termasuk Jepang, Australia, Inggris, dan Kanada, menolak untuk mengirimkan kapal perang.

Share: