Spanyol Tegaskan Menolak Ikut Operasi Militer di Selat Hormuz

Madrid tetap yakin konflik tidak dapat diselesaikan melalui cara militer. Saat ini tidak ada kondisi apa pun untuk operasi di bawah naungan PBB.


Madrid, Suarathailand- Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares menegaskan Spanyol menolak segala bentuk partisipasi dalam operasi militer di Selat Hormuz. Albares meyakini bahwa tindakan militer apa pun dapat memicu eskalasi.

Albares menambahkan Spanyol menolak partisipasi dalam operasi militer dan segala tindakan yang dapat menyebabkan eskalasi. Hal ini harus dihindari dengan segala cara saat ini, karena risiko perang terus ada.

Dalam wawancara dengan TVE Menteri Albares mengatakan Madrid tetap yakin konflik tidak dapat diselesaikan melalui cara militer. Saat ini tidak ada kondisi apa pun untuk operasi di bawah naungan PBB.

Ia  menambahkan  situasi di sekitar selat berada dalam kondisi “blokade ganda” oleh Iran dan Amerika Serikat, dan status quo saat ini “jelas tidak berkelanjutan.”

“Selat Hormuz harus dibuka, secara bebas, aman, dan tanpa biaya. Tidak boleh ada pungutan,” ucapnya.

Madrid terus mendukung proses negosiasi untuk menyelesaikan krisis tersebut, kata Albares, seraya menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran telah menghubunginya untuk memberitahu mengenai perkembangan negosiasi dan menjelaskan posisi Teheran.

Dirinya menambahkan bahwa Pakistan, dengan dukungan penuh dari Spanyol, terus melakukan upaya mediasi antara para pihak yang bersengketa.

Albares juga menambahkantidak ada solusi militer untuk krisis ini, baik bagi Amerika Serikat maupun Iran. Ia mengatakan bahwa sehari sebelum perang dimulai, Washington dan Teheran masih berada di meja perundingan di Oman, dan informasi yang diterima dalam beberapa hari terakhir mengenai kontak tersebut “cukup menggembirakan.”

Pada 3 Mei, Presiden AS Donald Trump mengumumkan “Project Freedom” untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz dan berusaha keluar dari wilayah tersebut.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan bahwa dukungan militer untuk inisiatif ini mencakup kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, platform tanpa awak multi-domain, serta 15.000 personel militer. Operasi tersebut dimulai pada Senin pagi.

Share: