Uji coba tersebut meliputi rudal jelajah, artileri angkatan laut, senjata otomatis, dan sistem peperangan elektronik di atas kapal perusak Kang Kon.
Pyongyang, Suarathailand- Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan pada hari Minggu Korea Utara telah melakukan uji tembak rudal jelajah strategis dan senjata lainnya dari kapal perang barunya, Kang Kon, sebuah kapal perusak serbaguna berbobot 5.000 ton dengan panjang 140 meter.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengawasi uji tembak tersebut.
Tes meliputi rudal jelajah, artileri angkatan laut, senjata otomatis, dan sistem peperangan elektronik di atas kapal perusak Kang Kon. Kim mengatakan latihan tersebut dimaksudkan untuk memeriksa dan mengkonfirmasi kemampuan kapal perusak untuk "menerapkan berbagai jenis sistem senjata di atas kapal perusak dalam pertempuran."
Setelah menyaksikan uji coba yang sukses, Kim memerintahkan kapal perang tersebut untuk diresmikan ke dalam angkatan laut negara itu dalam waktu dua bulan, kata KCNA.
Sebelumnya, Kim mengatakan kapal perusak tersebut memiliki "kemampuan anti-pesawat, anti-kapal, anti-kapal selam, dan anti-rudal balistik."
Ia juga mengatakan bahwa kapal tersebut mampu menembakkan rudal jelajah strategis nuklir dan rudal balistik taktis. Kim menyerukan angkatan bersenjata negara itu untuk melakukan upaya yang lebih besar untuk memperkuat pencegahan perang dan kemampuan tempur Korea Utara.
Kim juga berjanji untuk segera memulai peluncuran kapal perang strategis kelas 10.000 ton baru negara itu.
Sementara itu, media Korea Selatan mengutip sumber militer yang mengatakan bahwa uji tembak Korea Utara telah terdeteksi oleh aparat militer Seoul.
Menurut Yonhap, militer Korea Selatan mengkonfirmasi bahwa sebuah rudal jelajah ditembakkan dari kapal perang ke arah Laut Timur pada hari Jumat.
Dilaporkan bahwa analis militer di Korea Selatan dan Amerika Serikat sedang sibuk menganalisis detail peluncuran rudal tersebut.
Korea Selatan dan Amerika Serikat secara teknis berperang dengan Korea Utara karena konflik mereka tahun 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian yang menentukan.
Pyongyang mengatakan bahwa provokasi terus-menerus oleh Korea Selatan dan Amerika Serikat telah mendorong kawasan itu "ke ambang perang nuklir."



