Kapal induk AS itu mundur dari sekitar lokasi dengan kecepatan tinggi setelah diserang drone Iran.
Teheran, Suarathailand- Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bahwa unit drone angkatan lautnya menghantam kapal induk kelas Nimitz AS USS Abraham Lincoln (CVN-72) di Laut Oman, yang menyebabkan kapal induk dan kapal pengawalnya mundur lebih dari 1.000 kilometer dari area tersebut.
Dalam pernyataan yang dimuat oleh Tehran Times, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengatakan bahwa kapal induk tersebut telah memasuki perairan sekitar 340 kilometer dari perbatasan teritorial Iran saat beroperasi di dekat jalur menuju Selat Hormuz.
“USS Abraham Lincoln, yang telah mendekati perairan teritorial Iran di Laut Oman hingga jarak 340 kilometer dengan tujuan untuk mengendalikan Selat Hormuz, dihantam oleh drone angkatan laut IRGC,” kata pernyataan itu.
Juru bicara tersebut menambahkan bahwa kapal induk, yang didampingi oleh kapal pengawal perusaknya, mundur dari sekitar lokasi dengan kecepatan tinggi setelah dugaan serangan tersebut.
“Kini telah mundur lebih dari 1.000 kilometer dari wilayah tersebut,” demikian laporan pernyataan tersebut.
Selat Hormuz, titik penting bagi pasokan energi global, telah menjadi titik fokus ketegangan antara Iran dan pasukan militer Barat.
Klaim tersebut merupakan pernyataan publik terbaru dari pejabat keamanan Iran mengenai tindakan langsung terhadap aset militer AS. Hingga saat penulisan ini, belum ada verifikasi independen atas laporan tersebut, dan belum ada pernyataan dari otoritas militer AS yang mengkonfirmasi bahwa USS Abraham Lincoln telah diserang.
Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah beroperasi di Teluk Oman dan Laut Arab di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Klaim baru Iran ini muncul beberapa hari setelah pasukan AS menyerang kapal induk drone Iran Shahid Bagheri selama operasi yang terkait dengan Operasi Epic Fury, yang dimulai pada 28 Februari.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) telah menolak klaim Iran bahwa USS Abraham Lincoln telah terkena rudal atau drone selama konfrontasi sebelumnya, dan menyebut laporan tersebut sebagai tidak benar.
Kapal induk tersebut tetap beroperasi penuh dan melanjutkan operasi penerbangan sebagai bagian dari misi rutinnya di Teluk Oman dan Laut Arab.



