Iran diperkirakan meluncurkan lebih dari 1.000 senjata di seluruh kawasan, termasuk sekitar 380 rudal balistik, 700 drone Shahed, dan 50 rudal pertahanan udara.
AS, Suarathailand- Payne Institute for Public Policy memperkirakan lebih dari 3.000 amunisi dan rudal pencegat berpemandu presisi digunakan dalam 36 jam pertama serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, yang menunjukkan kelemahan besar dalam rantai pasokan persenjataan.
Iran diperkirakan meluncurkan lebih dari 1.000 senjata di seluruh kawasan, termasuk sekitar 380 rudal balistik, 700 drone Shahed, dan 50 rudal pertahanan udara.
Serangan tersebut memicu upaya pencegatan besar-besaran oleh Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Teluk yang menjadi sasaran serangan balasan Iran.
Pada fase pembuka operasi militer tersebut, pasukan AS menggunakan berbagai senjata ofensif, termasuk 210 bom berpemandu presisi JDAM, 120 rudal jelajah Tomahawk, 120 drone berbiaya rendah, serta 90 rudal anti-radiasi AGM-88 yang menargetkan sistem radar Iran.
Pasukan Israel juga melakukan serangan luas dengan menggunakan sekitar 280 bom berpemandu Spice, 140 perangkat bom pintar, 70 rudal supersonik Rampage, serta 50 rudal jelajah Delilah, menurut estimasi.
Sistem pertahanan juga digunakan secara intensif untuk mencegat serangan Iran. Amerika Serikat menembakkan sekitar 180 rudal pencegat laut SM-2/SM-3/SM-6, lalu sebanyak 90 rudal Patriot PAC-2/PAC-3, serta 40 rudal pencegat THAAD. Sementara itu, Israel mengerahkan 70 pencegat Tamir dari sistem Iron Dome, 40 rudal Arrow, dan 35 pencegat David’s Sling.
Mitra regional AS turut serta dalam upaya pertahanan udara. Negara-negara Teluk diperkirakan meluncurkan sekitar 250 rudal pencegat Patriot PAC-3 dan 30 rudal THAAD.
Pertukaran intens rudal dan drone itu menyoroti tantangan strategis yang lebih luas, menurut laporan media.
Meskipun sistem pertahanan sebagian besar berhasil mencegat serangan yang datang, biaya dan volume amunisi yang digunakan menimbulkan tekanan besar pada rantai pasokan persenjataan Barat.
Pengisian kembali persenjataan tersebut bukan hanya tantangan finansial, tetapi juga masalah rantai pasokan yang terkait dengan mineral kritis, termasuk kobalt, tungsten, dan unsur tanah jarang yang penting untuk sistem navigasi, elektronik, dan motor roket.
Banyak dari bahan tersebut berasal dari pemasok terbatas, dengan China mendominasi beberapa pasar mineral utama. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dapat membuat kerentanan dalam kapasitas manufaktur pertahanan Barat.




