Washington mendorong Kyiv agar segera mencapai kesepakatan damai pada pertemuan pekan depan.
AS, Suarathailand- Washington Post melaporkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menghadapi tekanan baru dari Amerika Serikat (AS) menyusul perundingan antara delegasi Ukraina dan AS terkait upaya penyelesaian konflik dengan Rusia.
Tekanan itu meningkat seiring berjalannya skandal korupsi di dalam pemerintahan Ukraina dan berlanjutnya serangan militer Rusia.
Zelensky sebelumnya mengumumkan delegasi Ukraina akan dipimpin Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Andrii Hnatov, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Rustem Umerov, serta perwakilan Kementerian Luar Negeri dan badan intelijen.
Washington mendorong Kyiv agar segera mencapai kesepakatan damai pada pertemuan pekan depan. Situasi politik domestik Ukraina pun kian memanas setelah sejumlah tokoh oposisi menyerukan perombakan total pemerintahan.
Anggota parlemen Volodymyr Ariev menilai Zelensky tidak melakukan pembenahan substansial, melainkan hanya mengganti figur yang terseret skandal dengan sosok lain yang juga menuai kontroversi.
Di sisi lain, AS telah mengajukan draf baru rencana perdamaian Ukraina yang sebelumnya terdiri atas 28 poin dan kini direvisi menjadi 19 poin setelah pertemuan para pejabat AS, Ukraina, dan Eropa di Jenewa pada 23 November.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyatakan gagasan perdamaian dari Presiden AS Donald Trump dapat menjadi dasar penyelesaian konflik. Kremlin melalui juru bicara Dmitry Peskov menegaskan bahwa keputusan kini berada di tangan Kyiv, meski ruang geraknya kian menyempit akibat tekanan militer Rusia.



