Semua negara yang dengan cara apa pun mengikuti atau mendukung keputusan AS menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi teroris akan dikenakan tindakan balasan.
Teheran, Suarathailand- Pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan negara itu menganggap angkatan bersenjata negara-negara Uni Eropa yang telah memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke dalam daftar hitam sebagai “organisasi teroris” sesuai dengan hukum domestik.
“Uni Eropa tentu menyadari bahwa, berdasarkan undang-undang yang diadopsi oleh Majelis Konsultatif Islam Iran [Parlemen], angkatan bersenjata negara-negara yang ikut serta dalam tindakan Uni Eropa baru-baru ini terhadap Korps Garda Revolusi Islam dianggap sebagai organisasi teroris,” tulis Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dalam sebuah unggahan di X pada hari Jumat.
“Oleh karena itu, konsekuensinya akan menimpa negara-negara Eropa yang melakukan tindakan tersebut,” tulis Larijani.
Larijani merujuk pada Pasal VII undang-undang yang disahkan oleh Parlemen Iran pada April 2019 mengenai tindakan timbal balik sebagai tanggapan terhadap penetapan IRGC oleh AS.
Menurut artikel tersebut, semua negara yang dengan cara apa pun mengikuti atau mendukung keputusan Amerika Serikat untuk menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi teroris akan dikenakan tindakan balasan.
Uni Eropa menambahkan IRGC ke daftar terorisnya sebagai tanggapan atas tindakan Iran terhadap para perusuh yang secara brutal menimbulkan kekacauan di seluruh negeri atas undangan seorang pendukung monarki dan hasutan publik dari para pemimpin AS dan Israel pada akhir Desember.
Para perusuh dan teroris bersenjata yang didukung asing membajak protes damai dan sporadis terkait keluhan ekonomi pada tanggal 8 dan 9 Januari dan mengubahnya menjadi adegan pembunuhan, pembakaran masjid, klinik, ambulans, dan bus komuter, serta penghancuran properti publik dan swasta.
Otoritas Iran telah mengkonfirmasi bahwa badan intelijen AS dan Israel terlibat langsung, memberikan pendanaan, pelatihan, dan dukungan media kepada para perusuh dan teroris bersenjata yang beraksi di jalanan.



