Rencana tersebut diumumkan pemerintah Thailand di tengah perlambatan industri otomotif dalam negeri yang dipengaruhi melemahnya permintaan pasar dan ketatnya persaingan global.
Bangkok, Suarathailand- Pemerintah Thailand tengah menyiapkan program senilai sekitar US$700 juta (Rp12 triliun) untuk mempercepat penggantian sekitar 80.000 kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat industri otomotif nasional sekaligus mempertahankan posisi Thailand sebagai pusat produksi kendaraan terbesar di Asia Tenggara.
Rencana tersebut diumumkan pemerintah Thailand di tengah perlambatan industri otomotif dalam negeri yang dipengaruhi melemahnya permintaan pasar dan ketatnya persaingan global.
Melalui program baru itu, pemerintah berencana memberikan dukungan bagi pemilik kendaraan lama agar beralih ke kendaraan listrik. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan kendaraan listrik di pasar domestik sekaligus mendorong aktivitas produksi pabrikan yang telah berinvestasi di Thailand.
Nilai program diperkirakan mencapai sekitar 24 miliar baht atau setara US$700 juta (Rp12 triliun), dengan target mengganti sekitar 80.000 kendaraan dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah masih menyusun rincian mekanisme insentif, termasuk jenis kendaraan yang akan menjadi sasaran program dan bentuk bantuan yang akan diberikan kepada masyarakat.
Menteri Keuangan Thailand Pichai Chunhavajira mengatakan pemerintah sedang memfinalisasi skema tersebut sebagai bagian dari strategi untuk mendukung transformasi industri otomotif nasional menuju era kendaraan listrik.
Menurutnya, industri otomotif masih menjadi salah satu sektor penting bagi perekonomian Thailand sehingga diperlukan langkah-langkah baru untuk menjaga daya saing di tengah perubahan tren global menuju kendaraan ramah lingkungan.
Selain meningkatkan penjualan kendaraan listrik, pemerintah juga berharap program tersebut dapat membantu mengurangi emisi karbon dari sektor transportasi yang selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di negara itu.
Latar Belakang
Thailand selama bertahun-tahun dikenal sebagai pusat produksi kendaraan konvensional di Asia Tenggara. Industri otomotif menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional dengan basis produksi berbagai merek global yang memasok pasar domestik maupun ekspor.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, industri tersebut menghadapi tantangan besar akibat perlambatan ekonomi, tingginya utang rumah tangga, serta penurunan penjualan kendaraan.
Di sisi lain, persaingan dalam industri kendaraan listrik semakin meningkat. Sejumlah produsen asal China seperti BYD, Great Wall Motor, SAIC Motor, Changan Automobile, dan GAC Aion telah menanamkan investasi miliaran dolar di Thailand untuk membangun fasilitas produksi kendaraan listrik.
Pemerintah sebelumnya juga telah menawarkan berbagai insentif berupa keringanan pajak dan subsidi pembelian kendaraan listrik guna menarik investasi serta mempercepat adopsi EV di dalam negeri.
Thailand menargetkan sekitar 30 persen produksi kendaraan nasional pada 2030 berasal dari kendaraan tanpa emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju industri otomotif yang lebih ramah lingkungan.
Dampak
Apabila program baru tersebut direalisasikan, permintaan kendaraan listrik di Thailand diperkirakan akan meningkat secara signifikan. Kondisi itu dapat memberikan dorongan baru bagi produsen otomotif yang telah membangun pabrik kendaraan listrik di negara tersebut.
Program ini juga berpotensi mempercepat peremajaan kendaraan lama yang umumnya memiliki tingkat konsumsi bahan bakar dan emisi lebih tinggi dibanding kendaraan listrik.
Selain manfaat bagi industri, kebijakan tersebut diharapkan mendukung target Thailand dalam menekan emisi gas rumah kaca serta memperkuat posisinya sebagai basis produksi kendaraan listrik utama di kawasan ASEAN.
Meski demikian, keberhasilan program masih bergantung pada rincian insentif yang akan diumumkan pemerintah, kesiapan infrastruktur pengisian daya, serta respons masyarakat terhadap harga kendaraan listrik di pasar domestik.



