>Para pejabat keamanan Thailand memperingatkan potensi "babak ketiga" konflik perbatasan dengan Kamboja, dengan alasan peningkatan kekuatan militer yang signifikan.
>Laporan intelijen menunjukkan Kamboja telah memperoleh persenjataan anti-pesawat canggih, sebuah perkembangan yang menjadi perhatian utama Thailand.
>Para ahli percaya bahwa senjata baru Kamboja merupakan langkah strategis untuk menetralisir superioritas udara historis Thailand di kawasan tersebut.
>Ketegangan yang meningkat dan persiapan militer dilaporkan terjadi pada periode setelah Pemilu Thailand 2026.
Bangkok, Suarathailand- Para pejabat keamanan memperingatkan potensi "babak ketiga" konflik karena intelijen mengungkapkan pengadaan persenjataan anti-pesawat canggih oleh Kamboja.
Para pejabat keamanan Thailand telah mengeluarkan peringatan keras mengenai peningkatan aktivitas militer yang "mengkhawatirkan" di sepanjang perbatasan Kamboja, dengan intelijen menunjukkan bahwa Phnom Penh sedang mempersiapkan gelombang serangan baru.
Setelah Pemilu Thailand 2026, sumber-sumber keamanan tingkat tinggi melaporkan peningkatan signifikan persenjataan berat di pihak Kamboja.
Penilaian internal menunjukkan bahwa iklim saat ini telah mencapai titik kritis yang berbahaya, dengan seorang pejabat senior memperingatkan bahwa "ketegangan dapat meletus kapan saja."
Laporan intelijen menunjukkan bahwa perangkat keras berkinerja tinggi telah dikirimkan ke pasukan Kamboja, sebuah perkembangan yang dapat secara fundamental mengubah sifat konfrontasi perbatasan di masa depan.
Para analis memperkirakan bahwa bentrokan selanjutnya kemungkinan akan melampaui pertukaran tembakan roket BM-21 konvensional yang terlihat pada tahun-tahun sebelumnya.
Yang menjadi perhatian utama Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand adalah laporan akuisisi sistem anti-pesawat canggih.
Para ahli keamanan percaya ini adalah langkah strategis Kamboja untuk menetralisir superioritas udara Thailand, yang secara historis mengandalkan jet tempur modern dan kemampuan serangan presisi untuk mempertahankan kendali atas perbatasan.
Perbatasan tersebut telah secara resmi ditetapkan sebagai kerentanan keamanan kritis. Operasi pengawasan telah diintensifkan karena pemerintah memantau tanda-tanda "babak ketiga" permusuhan di lanskap pasca-pemilu.




