Pemerintah Thailand sedang meningkatkan kesiapsiagaan bencana dan berupaya mencapai netralitas karbon pada tahun 2050.
Bangkok, Suarathailand- Thailand berada di peringkat ke-17 dalam risiko iklim global dengan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem seperti hujan lebat, banjir, dan gelombang panas. Pemerintah sedang meningkatkan kesiapsiagaan bencana dan berupaya mencapai netralitas karbon pada tahun 2050.

Pada 29 November 2025, Dr. Phirun Saiyasitpanich, Direktur Jenderal Departemen Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup (Kementerian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup), mengungkapkan bahwa Thailand telah naik ke peringkat ke-17 dalam Indeks Risiko Iklim (CRI) 2026, yang disusun oleh Germanwatch.
Hal ini merupakan peningkatan yang signifikan dari peringkat ke-72 pada tahun 2022 dan menandakan semakin rentannya Thailand terhadap kejadian cuaca ekstrem. CRI mengevaluasi dampak kejadian cuaca ekstrem selama 30 tahun terakhir, menunjukkan bahwa Thailand semakin berisiko terkena banjir, gelombang panas, dan badai.
Peristiwa Terkini dan Meningkatnya Risiko
Banjir di wilayah selatan, khususnya di Hat Yai, Songkhla, mengakibatkan curah hujan 350 milimeter dalam satu hari—jumlah yang belum pernah terjadi dalam 300 tahun. Peristiwa ekstrem ini menyebabkan kerusakan yang meluas, yang menekankan dampak perubahan iklim terhadap pola curah hujan.
Peringkat negara ini dalam CRI merupakan peringatan yang jelas bahwa peristiwa semacam itu akan menjadi lebih sering dan parah. Selain hilangnya nyawa dan harta benda secara langsung, data tersebut menyoroti kerugian ekonomi, dengan 5,7 miliar orang terdampak oleh lebih dari 9.700 peristiwa cuaca ekstrem di seluruh dunia dalam 30 tahun terakhir.
Tanggapan Pemerintah:
Menanggapi meningkatnya ancaman ini, Prirun menyatakan bahwa pemerintah sedang mempercepat upaya untuk meningkatkan manajemen bencana, terutama dengan meningkatkan sistem peringatan dini.
Sebagai bagian dari upaya ini, Thailand berupaya mencapai netralitas karbon pada tahun 2050, dan menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu inisiatif utama adalah Rencana Adaptasi Nasional (RAN), yang menangani risiko iklim dan mengintegrasikan strategi adaptasi iklim di tingkat kebijakan dan lokal.
Rencana utama untuk tahun 2026 meliputi:
-Memperbaiki sistem kesiapsiagaan bencana, termasuk peningkatan pengelolaan dan respons banjir.
-Meningkatkan pengelolaan air di wilayah perkotaan dan pedesaan, yang akan membantu mengurangi dampak banjir di masa mendatang.
-Mempromosikan masyarakat rendah karbon dan meningkatkan ketahanan iklim di berbagai sektor seperti kesehatan masyarakat, pertanian, dan infrastruktur.
Pemerintah juga telah berjanji untuk memperluas upayanya dalam menyusun indeks risiko iklim lokal guna memastikan bahwa setiap wilayah dipersiapkan dengan baik untuk menghadapi peristiwa cuaca ekstrem di masa mendatang.
Meskipun Thailand lebih maju daripada banyak negara berpenghasilan rendah, kerusakan akibat cuaca ekstrem masih menjadi tantangan yang signifikan, sebagaimana dibuktikan oleh banjir Hat Yai baru-baru ini.
Sebagai pusat ekonomi utama, negara ini bertekad untuk memperkuat ketahanannya terhadap peristiwa iklim di masa mendatang. Kementerian Kesehatan Masyarakat telah meluncurkan dukungan kesehatan mental dan bantuan medis kepada para korban banjir, sementara berbagai inisiatif sedang dilaksanakan untuk mendukung pemulihan ekonomi di wilayah-wilayah terdampak.
Dengan pemanasan global yang terus memengaruhi pola cuaca, Thailand harus bersiap menghadapi masa depan di mana cuaca ekstrem menjadi hal yang biasa. Fokus pemerintah pada adaptasi dan pengurangan karbon sangat penting dalam memastikan ketahanan jangka panjang negara, sementara upaya peningkatan infrastruktur dan manajemen bencana akan membantu melindungi warga dari dampak perubahan iklim yang semakin besar.
Seiring meningkatnya frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem, Thailand semakin berfokus pada ketahanan iklim dan kesiapsiagaan bencana. Dengan meningkatkan infrastruktur, memperbaiki sistem peringatan dini, dan berupaya mencapai netralitas karbon pada tahun 2050, Thailand bertujuan untuk melindungi diri dari tantangan terkait iklim di masa depan. Langkah ambisius ini akan memainkan peran kunci dalam memitigasi dampak ekonomi dan sosial dari perubahan iklim.



