Thailand Bantah Gunakan Hubungan Militer dengan AS Alat Tawar Perdagangan

Sumber-sumber tersebut mengklaim bahwa Thailand berencana memasukkan poin-poin umum mengenai kerja sama pertahanan dalam usulan balasan menjelang pembicaraan perdagangan bilateral yang dijadwalkan pada akhir Agustus.


Bangkok, Suarathailand- Pemerintah Thailand secara resmi membantah laporan yang menyebutkan bahwa mereka berencana menggunakan aliansi militer dengan AS—termasuk latihan Cobra Gold—sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi perdagangan.

Bantahan tersebut merupakan tanggapan terhadap laporan media yang mengutip sumber anonim, menduga bahwa para pejabat Thailand sedang mempertimbangkan untuk mengurangi kerja sama pertahanan sebagai langkah balasan terhadap potensi pengenaan tarif oleh AS.

Seorang juru bicara pemerintah menyatakan keamanan dan perdagangan adalah dua hal yang terpisah dan bahwa kerja sama militer akan tetap berjalan sesuai rencana, terlepas dari sengketa komersial terkait tarif AS terhadap produk ekspor Thailand.

Seorang juru bicara pemerintah membantah laporan media asing yang menyebutkan bahwa Bangkok berencana memanfaatkan hubungan pertahanan, termasuk latihan Cobra Gold, dalam pembicaraan mengenai tarif AS.

Pemerintah Thailand dengan tegas menolak laporan media asing yang menduga bahwa Bangkok berencana memanfaatkan aliansi militer dan keamanan jangka panjangnya dengan Amerika Serikat sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi perdagangan bilateral mendatang.

Dalam pernyataannya pada hari Rabu, juru bicara pemerintah Rachada Dhnadirek menepis klaim bahwa Thailand sedang bersiap mengaitkan partisipasinya dalam inisiatif pertahanan bersama—termasuk latihan tahunan Cobra Gold—dengan ketentuan tarif AS.

"Thailand dan Amerika Serikat memiliki hubungan yang luas dan mendalam di berbagai bidang, mencakup ekonomi, perdagangan, keamanan, dan hubungan antarwarga," ujar Rachada. "Setiap bidang beroperasi berdasarkan kerangka kerja dan pertimbangan kepentingan nasionalnya masing-masing. Pemerintah tidak akan mengorbankan kepentingan nasional di satu sektor demi mendapatkan keuntungan di sektor lain."


Dugaan Mengenai Usulan Balasan Strategis

Klarifikasi ini menyusul laporan dari Bloomberg yang mengutip sumber anonim yang menduga bahwa para pejabat Thailand sedang mempertimbangkan usulan untuk mengurangi kerja sama pertahanan jika menghadapi tarif berat dari AS.

Menurut laporan tersebut, strategi yang diusulkan itu bertujuan untuk memperingatkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump bahwa langkah-langkah perdagangan yang bersifat menghukum dapat membahayakan hubungan keamanan di Asia Tenggara.

Sumber-sumber tersebut mengklaim bahwa Thailand berencana memasukkan poin-poin umum mengenai kerja sama pertahanan dalam usulan balasan menjelang pembicaraan perdagangan bilateral yang dijadwalkan pada akhir Agustus.

Sengketa ini bermula dari keputusan Washington untuk mengenakan tarif sebesar 12,5 persen terhadap sebagian besar produk ekspor Thailand berdasarkan Bagian 301 Undang-Undang Perdagangan AS. Thailand, yang mencatat surplus perdagangan sebesar US$51,4 miliar dengan AS pada tahun 2025, telah berupaya membatasi tarif di bawah 19 persen.

Untuk memenuhi tuntutan AS, Bangkok sebelumnya telah menawarkan konsesi perdagangan, termasuk penghapusan tarif impor daging sapi, daging domba, dan minuman keras asal Amerika, serta komitmen untuk mempercepat pengesahan undang-undang yang melarang barang-barang hasil kerja paksa.


Cobra Gold 27 Akan Berlangsung Sesuai Rencana

Menanggapi kekhawatiran mengenai kesiapan militer, Rachada menegaskan kembali bahwa kerja sama pertahanan tetap terpisah dari negosiasi komersial.

Kegiatan keamanan bilateral, termasuk Latihan Cobra Gold 27, akan dilaksanakan sesuai dengan rencana tahun jamak yang telah ditetapkan.

Sebagai penyelenggaraan yang ke-46, latihan ini merupakan bagian dari kerangka pelatihan enam tahun yang mencakup periode 2025 hingga 2030, dengan 31 negara peserta yang dijadwalkan melakukan latihan gabungan di berbagai ranah peperangan, yakni konvensional, siber, dan antariksa.

Konferensi perencanaan tahap menengah dijadwalkan berlangsung di Hawaii bulan depan, menjelang pelaksanaan latihan lapangan pada Maret 2027.

Thailand, bersama dengan Filipina, merupakan satu dari hanya dua sekutu perjanjian (treaty ally) AS di Asia Tenggara, yang berperan sebagai pilar penting bagi arsitektur keamanan Indo-Pasifik Washington.

Pejabat pertahanan dari kedua negara baru-baru ini menegaskan kembali ketahanan aliansi tersebut dalam pertemuan tingkat tinggi di Bangkok antara Wakil Menteri Pertahanan AS Elbridge Colby dan Jenderal Tharapong Malakam, Sekretaris Tetap Pertahanan Thailand.

Share: