Pemimpin Tertinggi Iran Dukung Negosiasi Langsung dengan AS Soal Selat Hormuz

Pemimpin Tertinggi Iran telah menyetujui negosiasi langsung dengan pejabat AS seiring dengan kesepakatan baru yang membuka Selat Hormuz dan meredakan ketegangan energi.


Teheran, Suarathailand- Channel News Asia (CNA) melaporkan Pemimpin Tertinggi Iran disebut telah menyetujui negosiasi langsung dengan pejabat Amerika Serikat AS soal Selat Hormuz. Hal ini menandai tanggapan publik pertamanya terhadap kesepakatan yang baru dicapai yang bertujuan untuk mengakhiri fase terbaru ketegangan antara kedua negara.

CNA melaporkan kapal tanker minyak telah kembali bebas melewati Selat Hormuz setelah Washington mencabut pembatasan terhadap Iran pada hari Kamis (18 Juni), menyusul implementasi kesepakatan tersebut. 

Pembukaan kembali jalur pelayaran vital ini menandakan pelonggaran awal tekanan pada aliran energi global.

Namun, ketidakpastian tetap ada mengenai keberlanjutan dan fase selanjutnya dari kesepakatan tersebut. 

Wakil Presiden AS JD Vance telah mengindikasikan bahwa ia mungkin akan menunda kunjungan yang direncanakannya ke Swiss pada hari Jumat (19 Juni), di mana kesepakatan tersebut diharapkan akan ditandatangani secara resmi. 

Perjalanan tersebut juga diharapkan dapat membantu meluncurkan negosiasi lebih lanjut untuk penyelesaian jangka panjang.

Tak lama kemudian, media pemerintah Iran menyiarkan pernyataan yang dikaitkan dengan Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang mengkonfirmasi persetujuan untuk pembicaraan langsung dengan pejabat AS. 

Ia dilaporkan mengatakan bahwa ia memiliki pandangan yang berbeda tentang memorandum tersebut tetapi menyetujuinya setelah mendapat jaminan dari presiden Iran dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi bahwa kepentingan nasional akan dilindungi.

Khamenei yang jarang tampil di depan umum sejak menjabat pada bulan Maret setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan yang dituduhkan kepada Amerika Serikat dan Israel, menggambarkan perjanjian tersebut sebagai langkah yang diperlukan meskipun ada keberatan. 

Pernyataannya merupakan reaksi formal pertamanya terhadap kesepahaman AS-Iran.

Ia juga mengkritik Presiden AS Donald Trump, menuduh bahwa ia telah menggunakan "segala cara yang mungkin" karena putus asa untuk mengamankan kesepakatan tersebut. 

Pada saat yang sama, ia memperingatkan bahwa negosiasi di masa mendatang tidak akan menyiratkan penerimaan posisi yang berlawanan dan mengatakan bahwa setiap perjanjian akan ditolak jika tuntutan AS melebihi batas Iran.

Meskipun pembukaan kembali Selat Hormuz dipandang sebagai langkah signifikan menuju de-eskalasi, para pejabat dan pengamat terus memperingatkan bahwa situasi regional yang lebih luas tetap rapuh, terutama di tengah konflik paralel di Timur Tengah.

Share: