Kesepakatan tersebut tidak memberikan manfaat ekonomi yang memadai bagi Venezuela.
Caracas, Suarathailand- Sputnik melaporkan anggota Majelis Nasional Venezuela Juan Carlos Valdez menilai kesepakatan energi 25 tahun dengan Amerika Serikat tidak setara dan memberikan keuntungan ekonomi yang jauh lebih kecil bagi Caracas.
"Hal Ini bukan kesepakatan antara pihak yang setara ... kesepakatan ini dibuat ketika Venezuela telah menjadi sasaran agresi dan berada dalam pengepungan, sementara tidak satu pun sanksi terhadap kami dicabut," kata Valdez..
Kesepakatan tersebut tidak memberikan manfaat ekonomi yang memadai bagi Venezuela. Ia mengatakan pendapatan minyak negara itu mencapai 18 miliar dolar AS (sekitar Rp317,4 triliun) per tahun pada 2000.
"Bila Venezuela menjalankan kontrak ini selama 25 tahun dengan harga 65 dolar AS (sekitar Rp1,2 juta) per barel dan produksi 1,5 juta barel per hari, Venezuela akan menerima rata-rata 8 miliar dolar AS per tahun," katanya.
Valdez menambahkan Venezuela pada 2007 memperoleh sekitar 62 miliar dolar AS dari penjualan minyak. Menurut dia, angka tersebut sekitar delapan kali lipat dari pendapatan yang akan diperoleh jika sumber daya dikembangkan perusahaan asing berdasarkan kesepakatan baru.
"AS pada akhirnya akan mencampuri Venezuela dengan satu atau lain cara ... Mereka telah kehilangan hegemoni perdagangan kepada China dan hegemoni militer kepada Rusia. Mereka juga hampir kehilangan hegemoni energi," kata Valdez.
Ia menilai kondisi tersebut terjadi karena Venezuela hampir kehilangan kesempatan bergabung dengan BRICS setelah Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menolak keanggotaan Caracas.
"Seandainya Lula [da Silva, Presiden Brasil] tidak melakukan bantuan kepada mereka dengan menghalangi Venezuela masuk BRICS, blok yang kini menguasai 45 persen cadangan minyak dunia," katanya.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan Venezuela yang memberikan pihak AS akses untuk mengembangkan 17 ladang minyak dengan cadangan sekitar 65 miliar barel.
Trump berharap kesepakatan tersebut, antara lain, dapat membantu menurunkan harga bensin di Amerika Serikat.



