Komunitas Yahudi di Irak pernah menjadi salah satu yang terbesar di Timur Tengah, dengan jumlah lebih dari 130.000 jiwa pada tahun 1940-an.
Baghdad, Suarathailand- Puluhan pengunjung mulai berdatangan ke museum baru yang dibuka oleh komunitas Yahudi Irak—museum pertama dari jenisnya—di tengah upaya berkelanjutan kelompok minoritas tersebut untuk melestarikan warisan budaya mereka.
Bulan lalu, Museum Yahudi Shamash dibuka di dalam bekas sekolah Yahudi yang didirikan pada tahun 1928 di Jalan al-Rashid, Baghdad, tepat di jantung ibu kota tersebut.
"Ini adalah satu-satunya museum di Irak yang dimiliki oleh komunitas Yahudi," ujar Ammar al-Tamimi, pengacara untuk komite Yahudi Irak yang mengelola aset-aset komunitas tersebut, kepada AFP.
Komunitas Yahudi di Irak pernah menjadi salah satu yang terbesar di Timur Tengah, dengan jumlah lebih dari 130.000 jiwa pada tahun 1940-an, dan memiliki sejarah yang telah berlangsung selama 2.600 tahun.
Namun saat ini, hanya tersisa beberapa lusin penduduk Yahudi, yang sebagian besar tinggal di wilayah Kurdistan.
Museum ini memiliki pintu masuk besar dari kayu yang dihiasi dengan simbol menorah dan pola geometris dari kaca patri.
Di dalamnya terdapat sebuah aula yang memamerkan dokumen serta foto-foto kuno komunitas Yahudi Irak, termasuk ijazah sekolah lama. Museum ini pun mulai menarik minat pengunjung, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.
Dinding-dindingnya dihiasi dengan foto tokoh-tokoh Yahudi terkemuka, termasuk Menteri Keuangan pertama Irak, Sassoon Eskell (1860–1932), dan seorang dokter bernama Dhafer Fouad Eliyahu (1960–2021)—sosok yang dikenal luas di Irak karena memberikan layanan medis secara cuma-cuma.
Sekolah Yahudi Shamash, yang dirintis oleh Yaqub Shlomo Shamash hampir satu abad lalu, menawarkan kurikulum berbahasa Inggris bagi para siswa dari berbagai latar belakang komunitas, khususnya dari kalangan Yahudi.
Menurut Tamimi, pemerintah sempat menyita properti tersebut pada tahun 1970-an dan mengubahnya menjadi sekolah negeri, hingga akhirnya sebuah putusan pengadilan mengembalikan aset tersebut kepada komunitas Yahudi pada tahun 1992.
Upaya untuk menghidupkan kembali sekolah tersebut menghadapi serangkaian hambatan: sanksi pada tahun 1990-an, invasi AS tahun 2003, bentrokan sektarian pada tahun 2006 dan 2007, serta bangkitnya kelompok Negara Islam (Islamic State) antara tahun 2014 dan 2017.
Namun, seiring dengan mulai terciptanya stabilitas relatif di Irak—yang dibarengi dengan meningkatnya minat terhadap budaya dan hiburan—para pemimpin komunitas Yahudi, di bawah pimpinan Khalida Fouad Eliyahu (63 tahun), mulai berupaya menghidupkan kembali situs-situs mereka.
Upaya restorasi
Saat mengunjungi museum tersebut—yang ia gambarkan sebagai tempat yang “penting untuk mengenang sejarah dan peradaban Yahudi”—Ramzi al-Saadi (74 tahun) mengenang kembali tetangga-tetangga Yahudinya semasa ia kecil di Jalan al-Kifah, Baghdad.
“Mereka adalah orang-orang yang baik dan sederhana, yang tidak pernah menyakiti siapa pun,” ujarnya kepada AFP.
Saat ini, tersisa kurang dari 50 sinagoge dan situs Yahudi di Irak. Sebagian besar berlokasi di Baghdad dan Hilla—ibu kota Provinsi Babilonia, tempat di mana banyak orang Yahudi dibawa secara paksa dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pembuangan ke Babilonia (Babylonian Captivity) pada abad ke-6 SM.
Puluhan ribu orang Yahudi meninggalkan Irak menyusul peristiwa pembantaian mematikan pada tahun 1941 yang dikenal sebagai *Farhud*—di mana massa membunuh lebih dari 100 orang Yahudi Irak—serta setelah berdirinya negara Israel pada tahun 1948.
Selama bertahun-tahun, komunitas Yahudi Irak telah berupaya memugar tempat-tempat suci dan sinagoge mereka yang sempat terbengkalai cukup parah; banyak di antaranya bahkan sempat dialihfungsikan menjadi gudang atau hancur akibat berbagai perang yang melanda Irak.




