Konflik Timteng, Aramco Peringatkan Cadangan Minyak Global di Level Mencemaskan

Chairman dan Chief Executive Chevron, Mike Wirth, mengatakan bahwa menipisnya cadangan minyak dan bahan bakar telah membuat sistem energi global menjadi lebih rentan dan mendorong batas bawah harga minyak ke tingkat yang lebih tinggi.


London, Suarathailand- CEO Aramco, Amin Nasser, menyatakan bahwa cadangan minyak komersial yang tersimpan kini kurang dari 6 miliar barel, dengan hanya 10% atau kurang yang benar-benar siap digunakan seiring menipisnya penyangga pasokan.

Menurut para eksekutif energi terkemuka, pasar minyak global menjadi semakin rentan terhadap guncangan pasokan karena menyusutnya inventaris yang mudah diakses, akibat penarikan besar-besaran selama konflik di Timur Tengah dan Ukraina.

Amin H. Nasser, Presiden dan CEO Aramco, mengatakan bahwa inventaris minyak komersial global telah turun di bawah 6 miliar barel, di mana hanya sekitar 10% atau kurang dari volume tersebut yang secara praktis tersedia bagi pasar.

Saat berbicara di Energy Intelligence Forum di London, Nasser mengatakan bahwa menipisnya stok yang dapat digunakan membuat pemerintah semakin kesulitan memanfaatkan cadangan untuk meredam dampak gangguan pasokan dan kenaikan harga bahan bakar.

Ia menyebutkan bahwa lebih dari 1 miliar barel telah dilepaskan—terutama dari inventaris komersial di darat—sejak krisis Timur Tengah bermula tahun ini.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak global mencapai sekitar 102 juta barel per hari; angka ini menyoroti betapa cepatnya stok yang tersedia dapat habis jika gangguan pasokan besar terus berlanjut.


Tambahan 100 jJuta Barel akan Dilepaskan

IEA sedang mempersiapkan pelepasan terkoordinasi lanjutan sebanyak 100 juta barel minyak mentah dan solar untuk membantu meredakan tekanan akibat lonjakan harga solar.

Belum jelas apakah sebagian dari volume tersebut akan berasal dari pelepasan darurat dalam jumlah rekor—sebesar 400 juta barel—yang diumumkan pada bulan Maret namun belum sepenuhnya disalurkan ke pasar.

Nasser mengatakan bahwa kesulitan dalam mencapai kesepakatan mengenai tambahan 100 juta barel tersebut mencerminkan betapa ketatnya kondisi inventaris global saat ini.

Kendala operasional berarti tidak semua minyak yang tercatat dalam penyimpanan dapat segera sampai ke pasar. Sebagian minyak tertinggal di dasar tangki penyimpanan atau di dalam jaringan pipa, sementara pemerintah juga mewajibkan pemeliharaan tingkat cadangan darurat minimum.

Para eksekutif energi memperingatkan bahwa upaya memulihkan stok tersebut sembari tetap memenuhi permintaan global dapat memakan waktu bertahun-tahun, yang berpotensi memperpanjang volatilitas hingga melampaui tahun depan. Chevron memperingatkan pasar telah kehilangan penyangga vital

Chairman dan Chief Executive Chevron, Mike Wirth, mengatakan bahwa menipisnya cadangan minyak dan bahan bakar telah membuat sistem energi global menjadi lebih rentan dan mendorong batas bawah harga minyak ke tingkat yang lebih tinggi.

Konflik yang terjadi telah memperketat pasokan minyak mentah maupun produk olahan, sehingga mengurangi kemampuan pasar dalam menyerap gangguan lebih lanjut.

Negara-negara Barat, khususnya, telah banyak menguras cadangan mereka, yang meningkatkan pentingnya kelanjutan pengiriman minyak dari Timur Tengah.

Russell Hardy, Chief Executive perusahaan perdagangan komoditas Vitol, mengatakan bahwa ekspor melalui jalur laut dari kawasan tersebut sangat krusial untuk menjaga keseimbangan pasar selama musim dingin, mengingat cadangan negara-negara Barat sebagian besar telah menipis.

Menurut Hardy, sekitar 12 juta barel minyak mentah dan 2 juta barel produk olahan per hari telah dikirim keluar dari Timur Tengah menggunakan kapal tanker dalam kurun waktu tujuh hingga 10 hari terakhir.

Cadangan minyak darurat AS berada di tingkat terendah sejak 1982

Sementara itu, menurut data Departemen Energi AS, cadangan minyak mentah dalam Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve) AS telah turun ke tingkat terendah sejak Oktober 1982.

Cadangan tersebut turun menjadi sekitar 284,6 juta barel pada bulan September seiring langkah Amerika Serikat yang terus melepas cadangan darurat untuk menopang pasar.

Tekanan ini tidak hanya terjadi pada sektor minyak.

Cadangan gas alam juga menipis, sehingga meningkatkan risiko fluktuasi harga yang tajam jika cuaca musim dingin memicu lonjakan permintaan.

Presiden dan Group Chief Executive PETRONAS, Tengku Muhammad Taufik, memperingatkan bahwa musim dingin yang ekstrem dapat memicu krisis akut di pasar gas pada kuartal pertama tahun 2027 jika tingkat penyimpanan turun hingga ke batas minimum.

Dengan berkurangnya cadangan komersial maupun strategis, para eksekutif sektor energi menyatakan bahwa pasar global kini semakin bergantung pada kelancaran produksi dan ekspor—terutama dari Timur Tengah—guna mencegah tekanan lebih lanjut terhadap harga.

Share: