Pejabat Iran memperingatkan bahwa serangan yang terus berlanjut terhadap infrastruktur energi dapat memicu pembalasan.
AS, Suarathailand- Pejabat AS khawatir serangan terhadap infrastruktur yang melayani masyarakat Iran dapat menimbulkan dampak strategis yang berbalik arah dengan memperkuat dukungan publik terhadap kepemimpinan Iran serta mendorong kenaikan harga minyak global.
“Presiden tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Ia ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya. Dan hal itu mengingatkan orang pada kenaikan harga bensin,” kata seorang penasihat Presiden AS Donald Trump.
“Kami tidak berpikir itu adalah ide yang baik,” kata seorang pejabat senior AS tersebut.
Laporan itu menyebutkan bahwa meskipun fasilitas yang diserang bukan merupakan lokasi produksi minyak, para pejabat di Washington khawatir rekaman yang memperlihatkan depot bahan bakar yang terbakar dapat mengguncang pasar energi.
Pejabat Iran memperingatkan bahwa serangan yang terus berlanjut terhadap infrastruktur energi dapat memicu pembalasan.
Juru bicara Markas Khatam al-Anbiya Iran, yang mengawasi operasi militer, mengatakan Teheran dapat merespons dengan serangan serupa di berbagai wilayah jika serangan semacam itu terus terjadi.
Ia menambahkan bahwa Iran sejauh ini menghindari menargetkan infrastruktur energi di kawasan, namun memperingatkan bahwa jika langkah tersebut diambil, harga minyak global dapat melonjak hingga 200 dolar AS (sekitar Rp3,4 juta) per barel..
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga memperingatkan bahwa Teheran akan melakukan pembalasan “tanpa penundaan” jika serangan terhadap infrastruktur terus berlanjut.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak Israel dan AS melancarkan duet serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026 yang menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta melukai lebih dari 10.000 lainnya, menurut otoritas Iran.
Iran kemudian melakukan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan Israel, Irak, Yordania, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS, sebagai bentuk mempertahankan diri.



