202 Ribu Hektare Lahan Terbakar di Indonesia, Picu Polusi Lintas Batas Negara

>Lebih dari 202.000 hektare hutan dan lahan di Indonesia terbakar dalam tujuh bulan pertama tahun ini; luas area tersebut hampir tiga kali lipat ukuran Singapura.

>Asap akibat kebakaran ini telah menyebabkan kabut asap lintas batas, mencemari udara dan berdampak pada kesehatan masyarakat di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina.

>Meskipun kekeringan yang dipicu oleh El Niño memperparah kondisi, kebakaran ini terutama disebabkan oleh aktivitas manusia, khususnya penggunaan api sebagai metode murah untuk pembukaan lahan pertanian.

>Pembakaran lahan gambut yang kaya karbon menjadi perhatian utama; hal ini menyebabkan puluhan ribu kasus infeksi saluran pernapasan di tingkat lokal dan mengancam pelepasan karbon dalam jumlah besar yang selama ini tersimpan di dalamnya ke atmosfer.

Jakarta, Suarathailand- Kebakaran hutan dan lahan telah menghanguskan lebih dari 202.000 hektare wilayah di Indonesia selama tujuh bulan pertama tahun 2026, sementara asap menyebar ke seluruh Asia Tenggara dan menyingkap kelemahan dalam perlindungan lahan gambut serta upaya pencegahan kebakaran.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan gambut telah berdampak pada Malaysia, Brunei, dan Singapura, bahkan mencapai Filipina, sehingga mengancam kesehatan masyarakat dan satwa liar.

Kementerian Kehutanan Indonesia mencatat lebih dari 202.000 hektare lahan terbakar antara bulan Januari dan Juli—setara dengan lebih dari 1,26 juta *rai* dan hampir tiga kali lipat luas Singapura. Sekitar 94.539 hektare terbakar pada bulan Juli saja, dengan sebagian besar kerusakan terkonsentrasi di Sumatra dan Kalimantan.

Total luas lahan yang terbakar selama periode Januari–Juli ini telah melampaui angka pada periode yang sama di tahun 2019 dan 2023, meskipun masih di bawah angka 2,6 juta hektare yang terbakar sepanjang tahun 2015.


Kekeringan Perparah Risiko Akibat Pembukaan Lahan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia telah mengidentifikasi El Niño sebagai faktor yang memperparah kebakaran. Kekeringan berkepanjangan menyebabkan vegetasi, ranting, dan dedaunan yang gugur menjadi kering, sehingga memungkinkan percikan api kecil menyebar dengan cepat.

Titik api juga muncul di luar wilayah-wilayah yang paling terdampak, termasuk di Jawa, Sulawesi, dan Papua Barat. Yosi Amelia, ketua program iklim dan ekosistem di organisasi lingkungan Madani Berkelanjutan, mengatakan bahwa Merauke di Papua Selatan kini menjadi pusat perhatian baru seiring dengan pembukaan hutan untuk perkebunan skala besar dan proyek energi.

Kondisi lahan gambut yang terdegradasi memperparah risiko tersebut. Secara alami, lahan gambut yang basah tidak mudah terbakar, namun pengeringan lahan untuk pertanian dan industri menurunkan permukaan air tanah sehingga membuat tanah menjadi sangat mudah terbakar.

Ronny P Sasmita, analis senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution, berpendapat bahwa kekeringan saja tidak cukup untuk menjelaskan krisis ini: aktivitas manusia menjadi penyebab sekitar 99% kejadian kebakaran.

Ia menyoroti adanya insentif finansial di balik praktik pembakaran lahan. Biaya pembukaan lahan gambut seluas satu hektare secara mekanis berkisar antara US$566–850, jauh lebih mahal dibandingkan metode pembakaran yang hanya memakan biaya US$28–57—yang berarti potensi penghematan sekitar 95%, belum termasuk perhitungan dampak kerusakan lingkungan.


Kebakaran lahan gambut melepaskan karbon yang telah tersimpan selama berabad-abad.

Begitu tersulut, lahan gambut kering dapat terus membara di bawah permukaan tanah selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, sehingga lokasi titik api sulit ditemukan dan kebakaran sulit dipadamkan.

Dr. Nisa Novita, peneliti lahan gambut di Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), mengatakan bahwa kondisi lahan yang tergenang air memperlambat proses penguraian, sehingga memungkinkan karbon menumpuk di bawah tanah selama ribuan tahun. Aktivitas pengeringan lahan (drainase) dan kebakaran dapat mengubah cadangan ini menjadi "bom karbon".

Salah satu perkiraan yang banyak dikutip menyebutkan bahwa cadangan karbon gambut Indonesia mencapai sekitar 57 miliar ton, atau kira-kira 55% dari total karbon lahan gambut tropis dunia. Angka tersebut mencakup 30% dari seluruh karbon lahan gambut di dunia. Penelitian *Nature Communications*

Di beberapa wilayah Kalimantan, ketebalan lapisan gambut melebihi 20 meter dan mampu menyimpan lebih dari 6.000 ton karbon per hektare. Jika dikonversi menjadi setara karbon dioksida, jumlah karbon yang tersimpan itu sebanding dengan emisi tahunan dari sekitar 4.800 mobil. Perbandingan ini menggambarkan besarnya cadangan karbon, bukan berarti jumlah emisi yang pasti dilepaskan dalam satu kali peristiwa kebakaran.

Memulihkan ketinggian muka air dan menutup saluran drainase dapat mengurangi emisi serta membuat lahan gambut yang terdegradasi menjadi tidak terlalu rentan terbakar. Namun, upaya pemulihan tidak menjamin kebakaran akan berhenti secara permanen; efektivitasnya bergantung pada kondisi setempat dan pelaksanaannya. Penelitian mengenai restorasi lahan gambut

Dampak Kesehatan Melintasi Batas Wilayah

Lebih dari 50.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut dilaporkan terjadi di wilayah yang terdampak kebakaran selama bulan Juli dan Agustus, termasuk lebih dari 12.000 kasus pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Pembaruan informasi kebakaran hutan *Copernicus*

Kementerian Kesehatan Indonesia juga melaporkan peningkatan angka infeksi saluran pernapasan secara nasional, dengan mengidentifikasi musim kemarau dan kebakaran hutan sebagai faktor penyebabnya. Angka nasional tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai kasus yang semata-mata disebabkan oleh asap kebakaran hutan. Komentar Kementerian Kesehatan yang dilaporkan oleh *Antara*

Bagi para sukarelawan yang berjibaku memadamkan api, asap merupakan bahaya nyata yang langsung dihadapi.

Fahrin Ramadhianto, seorang sukarelawan pemadam kebakaran di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menyebut asap sebagai bagian terburuk dari pekerjaannya. Gambut yang terbakar menghasilkan bau khas menyerupai kayu hangus yang membusuk, karena tanah tersebut mengandung tumpukan sisa kayu lapuk dan materi organik lainnya.

Sukarelawan lainnya, Dwi Sujatmoko, mengibaratkan asap tersebut seperti gas air mata.

"Saat asap mengenai hidung, mata langsung terasa perih," ujarnya. “Semua orang mengatakan kebakaran ini luar biasa hebatnya, baik kobaran api maupun asap tebalnya, dan itu memang benar. Jika kebakaran lahan gambut di bawah permukaan tanah meluas hingga tak terkendali, kerugian yang ditimbulkan akan sangat besar.”

Di seberang perbatasan, ratusan sekolah di negara bagian Sarawak, Malaysia, ditutup sementara demi melindungi murid-murid dari kabut asap. Laporan CNA mengenai penutupan sekolah tersebut

Di Filipina, kabut asap menyebabkan tingkat polusi di wilayah Manila melonjak hingga lebih dari empat kali lipat ambang batas yang disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sehingga muncul imbauan untuk mengenakan masker N95. Kualitas udara tidak sehat tercatat di wilayah ibu kota Filipina akibat kabut asap

Penangkapan dan Seruan untuk Pencegahan yang Lebih Kuat

Kepolisian Indonesia telah menangkap 72 tersangka dan sedang memeriksa bukti keuangan untuk memastikan apakah ada perusahaan yang memerintahkan atau mendanai pembukaan lahan yang terkait dengan kebakaran tersebut.

Rizal Irawan, seorang pejabat senior di Kementerian Lingkungan Hidup, menyatakan bahwa pihak berwenang akan menyelidiki apakah kebakaran terjadi secara tidak sengaja atau sengaja dimulai, sembari menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak (*strict liability*) jika kebakaran terjadi di dalam area konsesi perusahaan.

Kelompok-kelompok lingkungan hidup berpendapat bahwa penegakan hukum dan upaya pemadaman darurat harus dibarengi dengan langkah-langkah pencegahan.

Amelia mengatakan bahwa krisis ini harus dipahami sebagai masalah struktural yang melibatkan pengelolaan hutan, tata ruang, penguasaan lahan, dan pengelolaan air, bukan sekadar bencana alam biasa.

Kendala pendanaan juga turut melemahkan respons penanganan. Sasmita menyebutkan adanya pemotongan dana transfer pemerintah pusat serta kekurangan sumber daya yang menyebabkan setiap petugas pemadam kebakaran hutan di Kalimantan Barat harus menangani area seluas sekitar 144 hektare (setara dengan 900 *rai*).

Ia juga mengkritik hambatan administratif yang menghambat akses terhadap dana darurat senilai sekitar 3,96 juta dolar AS, sementara para petugas dan sukarelawan kesulitan akibat kekurangan peralatan pelindung dasar dan pompa air.

Share: