"Siapa pun yang membawa-bawa sejarah harus siap jika sejarah itu terulang kembali!."
Teheran, Suarathailand- Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC), Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, merujuk pada kekalahan telak Romawi di tangan raja Sassaniyah, Shapur I, untuk membantah upaya pejabat Amerika yang membingkai serangan terhadap Iran sebagai sebuah perang peradaban.
"Saat mereka pergi ke Athena—setelah kekalahan dan penghinaan di hadapan Iran—untuk membentuk narasi perang peradaban, ada baiknya mereka membaca bagian penting lain dari sejarah: saat kaisar Romawi berlutut di hadapan Shapur I dari Kekaisaran Sassaniyah," tulis Rezaei di platform X pada hari Jumat.
Ia menambahkan, "Siapa pun yang membawa-bawa sejarah harus siap jika sejarah itu terulang kembali!"
Rezaei menyampaikan pernyataan tersebut sebagai tanggapan atas pidato Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di Athena, di mana Rubio menyinggung peradaban Barat serta melontarkan komentar yang menghina Iran dan peradabannya.
Tanggapan Rezaei merujuk pada salah satu peristiwa militer paling signifikan dalam sejarah kuno Iran, sekaligus mematahkan bingkai narasi peradaban yang diusung pejabat AS tersebut dengan mengingatkan kembali masa ketika Kekaisaran Sassaniyah menimpakan kekalahan besar terhadap Kekaisaran Romawi.
Shapur I, yang memimpin Kekaisaran Sassaniyah dari tahun 241 hingga 272 Masehi, melancarkan sejumlah kampanye militer melawan Romawi dan memperluas pengaruh Persia hingga ke Mesopotamia serta sebagian wilayah Mediterania timur.
Pada tahun 260 Masehi, pasukannya mengalahkan tentara Romawi di dekat Edessa—wilayah yang kini termasuk dalam negara Turki—dan menawan Kaisar Valerian, yang memimpin kampanye militer melawan Persia tersebut.
Penawanan Valerian merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah Romawi. Ia menjadi kaisar Romawi pertama yang ditawan oleh musuh asing.
Shapur mengabadikan kemenangan tersebut dalam relief batu yang megah, termasuk di Naqsh-e Rustam dekat Persepolis, yang menggambarkan Valerian sedang berlutut di hadapan raja Sassaniyah. Adegan tersebut menjadi simbol abadi kemenangan militer kekaisaran itu atas Romawi.



