Iran memperingatkan Emirat untuk tidak melanjutkan "tindakan destruktifnya dalam kolusi dengan pihak-pihak yang bermusuhan."
Teheran, Suarathailand- Kementerian Luar Negeri Iran telah menyerukan Uni Emirat Arab untuk menghentikan persekutuan dan kerja samanya dengan pihak-pihak yang memusuhi Iran, dengan mengatakan bahwa Republik Islam berhak untuk membalas dengan cara yang sama.
Dalam sebuah pesan pada hari Selasa, kementerian mencatat bahwa Abu Dhabi mengizinkan wilayahnya digunakan secara luas untuk serangan yang menargetkan Republik Islam selama putaran terbaru agresi tanpa provokasi dari Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap negara tersebut.
Kementerian memperingatkan Emirat untuk tidak melanjutkan "tindakan destruktifnya dalam kolusi dengan pihak-pihak yang bermusuhan."
Selain berkontribusi pada agresi terhadap Republik Islam, terus berlanjutnya UEA sebagai tuan rumah pangkalan dan peralatan musuh "membawa konsekuensi berbahaya bagi perdamaian dan stabilitas regional," demikian bunyi pesan tersebut.
Kementerian juga mengecam para penguasa Emirat karena menuduh Iran menargetkan negara Arab tersebut, menggarisbawahi bahwa tindakan pembalasan Republik Islam semata-mata ditujukan pada target-target yang bermusuhan di dalam Emirat.
Pernyataan itu mengecam tuduhan tersebut sebagai tidak berdasar, sejalan dengan Amerika Serikat, dan melanggar prinsip-prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Menanggapi tuduhan tersebut, pesan itu melanjutkan, "Republik Islam telah menunjukkan pengekangan maksimal, mengadopsi pendekatan yang bertanggung jawab dan demi menghormati kebaikan bersama kawasan dan komunitas Muslim."
Namun, kementerian menyimpulkan, Republik Islam "tidak akan ragu untuk mengambil tindakan yang diperlukan dan tepat untuk membela kepentingan dan keamanan nasionalnya."
UEA dan sejumlah besar negara regional lainnya, termasuk Bahrain, Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania, akan selalu mengizinkan wilayah mereka masing-masing untuk berfungsi sebagai landasan peluncuran serangan di wilayah Iran selama agresi tanpa provokasi yang berlangsung dari 28 Februari hingga 7 April.
Iran menanggapi dengan melancarkan setidaknya 100 gelombang pembalasan yang menentukan dan berhasil terhadap target-target Amerika dan Israel yang sensitif dan strategis di seluruh wilayah tersebut.
Pembalasan tersebut menargetkan, antara lain, fasilitas-fasilitas Amerika di dalam negara-negara tersebut yang akan memainkan peran penting dalam memungkinkan agresi tersebut.



