Perang AS Vs Iran juga memicu kenaikan harga bahan bakar dan menambah tekanan politik terhadap Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu AS. -Iran
AS, Suarathailand- CBS News menyoroti biaya sebesar $47,1 miliar (Rp854 triliun) yang dihabiskan dalam perang AS melawan Iran, sekaligus mempertanyakan klaim berulang Presiden Donald Trump bahwa ia dapat mengakhiri konflik tersebut kapan pun ia mau.
Jaringan berita tersebut melaporkan bahwa perang ini juga memicu kenaikan harga bahan bakar dan menambah tekanan politik terhadap Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu AS.
Sementara itu, Kantor Anggaran Kongres (Congressional Budget Office) memperkirakan bahwa jika perang terus berlanjut, biaya tambahan yang diperlukan bisa mencapai $2 miliar hingga $3 miliar per bulan.
Koresponden CBS mencatat bahwa penghentian serangan udara dan penarikan kapal perang tidak serta-merta berarti Amerika Serikat telah mengakhiri atau memenangkan perang tersebut.
Ia juga menyoroti meningkatnya beban finansial dan politik, termasuk dampak kenaikan harga bahan bakar terhadap rumah tangga di Amerika. Meski Trump terus berjanji bahwa harga bensin akan turun, CBS mempertanyakan mengapa perang tersebut masih terus berlangsung jika ia memang bisa mengakhirinya sesuka hati.
Perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, dengan serangan ke wilayah Iran. Sebelum serangan terjadi, Selat Hormuz terbuka untuk lalu lintas maritim. Sebagai respons terhadap agresi dan ancaman terhadap keamanannya, Iran kemudian membatasi akses melalui jalur perairan strategis tersebut.
Gangguan terhadap pelayaran dan pasokan energi ini berkontribusi pada volatilitas pasar minyak global serta kenaikan harga bahan bakar.



