Seruan itu disampaikan di saat Asia Tenggara menghadapi tekanan yang meningkat akibat krisis energi yang tengah berlangsung dan gangguan rantai pasokan.
Cebu, Suarathailand- Para pemimpin Uni Eropa (UE) dan ASEAN menyerukan kerja sama regional yang lebih kuat dan aksi mendesak untuk upaya yang keberlanjutan, transisi energi, dan ketahanan ekonomi.
Langkah ini disampaikan di saat Asia Tenggara menghadapi tekanan yang meningkat akibat krisis energi yang tengah berlangsung dan gangguan rantai pasokan.
Para pejabat pemerintah, diplomat, dan pemimpin bisnis ASEAN menekankan bahwa keberlanjutan telah menjadi inti dari stabilitas ekonomi dan daya saing jangka panjang di kawasan.
Pertemuan di sela-sela KTT Pemimpin ASEAN itu mempertemukan lebih dari 200 pembuat kebijakan, duta besar, dan eksekutif senior industri dari seluruh ASEAN dan Eropa guna membahas strategi praktis memperkuat kerja sama iklim, perdagangan, ketahanan pangan, dan rantai pasokan yang tangguh.
Menteri Keuangan Filipina Frederick Go menyoroti peran kemitraan ekonomi yang lebih dalam antara Filipina dan Uni Eropa.
"Eropa dan Filipina memiliki kemitraan yang stabil dan terus berkembang, yang dibangun melalui perdagangan, investasi, dan kerja sama pembangunan," kata Go dalam pidato utama tingkat menteri.
"Saat ini, fokusnya juga pada keberlanjutan, iklim, dan pertumbuhan inklusif, dan kami tetap berkomitmen untuk memperdalam kolaborasi kami dengan Uni Eropa dan memajukan prioritas bersama kami."
Go juga menggambarkan usulan Perjanjian Perdagangan Bebas Uni Eropa-Filipina sebagai "perjanjian ekonomi terpenting negara ini tahun ini," seraya mencatat bahwa kedua pihak ingin menandatangani kesepakatan tersebut pada kuartal ketiga 2026.
"Di tengah ketidakpastian global yang ditandai dengan volatilitas energi, gangguan rantai pasokan, dan kenaikan biaya, KTT ini sangat tepat waktu," kata Paulo Duarte, presiden Kamar Dagang Eropa di Filipina (ECCP) sekaligus anggota dewan eksekutif Dewan Bisnis Uni Eropa-ASEAN.
"Ini mencerminkan pengakuan bersama di seluruh wilayah bahwa keberlanjutan bukan lagi pilihan. Ini merupakan hal yang sangat penting bagi ketahanan ekonomi, daya saing, dan pertumbuhan jangka panjang," imbuh Duarte.
Sementara, Duta Besar Uni Eropa untuk Filipina, Massimo Santoro, menekankan perlunya menyelaraskan ambisi iklim dengan pendanaan dan mekanisme implementasi yang memadai.
"Meskipun kita memiliki ambisi yang tepat dalam menetapkan target untuk aksi iklim dan lingkungan, kita tidak selalu menyelaraskan sumber daya keuangan yang dibutuhkan untuk mewujudkan ambisi tersebut," kata Santoro.
"Memperkuat hubungan antara ambisi dan pendanaan sangat penting untuk mengubah kebijakan menjadi dampak nyata di lapangan."
Santoro menambahkan bahwa pendekatan regional yang terintegrasi diperlukan untuk keberlanjutan dan ketahanan.
"Seharusnya tidak ada sekat antara kerja sama di bidang perdagangan, iklim, dan pengurangan risiko bencana, karena ini adalah tantangan yang saling terkait," katanya.
"Situasi energi saat ini harus menjadi peluang untuk mempercepat pendekatan terpadu ini, termasuk pada energi terbarukan dan ketahanan ekonomi."
Adapun Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia, Leonardo Teguh Sambodo, mengatakan bahwa pemerintahan di ASEAN juga harus menyeimbangkan dua tujuan utama, yaitu mempertahankan pertumbuhan ekonomi dengan mengurangi emisi, guna mencapai keberlanjutan jangka panjang yang sejati.
"Satu-satunya jalan yang layak ke depan adalah perencanaan terpadu yang mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam setiap aspek pembangunan."



