300 Elite Partai Komunis China Kumpul Konsolidasi dan Bahas Korupsi

Pemimpin Tiongkok ini telah melancarkan kampanye antikorupsi selama 14 tahun yang telah menyingkirkan ribuan pejabat, termasuk puluhan anggota Komite Sentral.


Beijing, Suarathailand- Presiden Tiongkok Xi Jinping dan para pemimpin puncak lainnya bertemu di Beijing pada hari Senin dalam sebuah pertemuan penting yang dicermati dengan saksama untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah negara tersebut serta kepemimpinan di masa depan.

Menurut media pemerintah, sekitar 300 anggota Komite Sentral Partai Komunis yang berkuasa—yang hadir dalam pertemuan yang disebut sebagai pleno kelima ini—akan berupaya memperketat disiplin di dalam jajaran mereka.

Langkah tersebut mencakup upaya untuk mengurangi korupsi serta menjadikan para kader lebih efektif dan setia.

Hanya sedikit informasi mengenai pertemuan tertutup yang dijaga ketat ini yang akan diketahui publik hingga acara berakhir pada hari Kamis, namun waktu penyelenggaraan pertemuan ini sangatlah krusial.

Pleno kelima ini berlangsung menjelang kongres partai besar tahun depan, di mana Xi—yang kini berusia 73 tahun—hampir dipastikan akan mengamankan masa jabatan keempat yang bersejarah dan mengawasi perombakan kepemimpinan.

Pleno-pleno sebelumnya telah menjadi momen penting bagi Xi untuk memperkokoh otoritasnya.

Pemimpin Tiongkok ini telah melancarkan kampanye antikorupsi selama 14 tahun yang telah menyingkirkan ribuan pejabat, termasuk puluhan anggota Komite Sentral.

Meski demikian, ia tetap merasa frustrasi dengan para kader yang dianggapnya tidak melaksanakan perintah-perintahnya.

Menjelang pleno tersebut, media pemerintah menerbitkan sebuah artikel yang merujuk pada pidato Xi bulan Januari lalu. Dalam pidato itu, ia mengecam para pejabat "bermuka dua" yang tampak mematuhi arahan pusat namun "melawan secara diam-diam", mengejar "individualisme", dan bersikap "oportunistik secara politik".

Para analis mengatakan kepada AFP bahwa Xi berupaya memaksimalkan efisiensi dan loyalitas di kalangan kader dengan menerapkan pengawasan serta aturan yang lebih ketat.

Namun, akibat pembersihan besar-besaran yang dilakukannya, pleno tahun ini diperkirakan akan mencatat jumlah kehadiran terendah sejak wafatnya mantan pemimpin Mao Zedong pada tahun 1976.

Delapan kursi di Komite Sentral saat ini kosong, sementara 15 anggota lainnya sedang dalam penyelidikan dan berisiko diganti.

Gerakan antikorupsi Xi juga menyasar militer, dengan menyingkirkan lima dari tujuh anggota Komisi Militer Pusat (CMC)—badan tertinggi partai yang membawahi angkatan bersenjata. 

Menurut Asia Society Policy Institute, dari 44 anggota militer yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Komite Sentral pada tahun 2022, hana dua orang yang tidak disingkirkan atau hilang.

Sidang pleno ini mungkin akan diisi dengan penunjukan anggota baru untuk Komisi Militer Pusat (CMC); partai tersebut bisa saja menunggu hingga kongres tahun depan untuk melakukan pengisian posisi; atau Xi mungkin justru merestrukturisasi kendali partai atas militer yang berskala besar itu.

Pembicaraan ini berlangsung di tengah situasi yang tidak stabil bagi ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut, yang tengah berjuang mengatasi lemahnya belanja domestik secara terus-menerus serta krisis berkepanjangan di sektor properti yang krusial.

Hubungan politik dan ekonomi yang penuh gejolak dengan Amerika Serikat juga menjadi beban bagi para pemimpin Tiongkok.

Pihak berwenang diperkirakan akan merilis ringkasan hasil pertemuan setelah agenda tersebut berakhir pada hari Kamis.

Share: