PBB Peringatkan Retorika Serangan ke Iran akan Perburuk Situasi

Pejabat Iran menyebut AS dan Israel berada di balik apa yang mereka sebut sebagai kerusuhan dan aksi terorisme dalam gelombang protes tersebut.


PBB, Suarathailand- Martha Ama Akyaa Pobee, salah seorng pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kamis (15/1) memperingatkan meningkatnya retorika mengenai kemungkinan aksi militer terhadap Iran berisiko memperkeruh situasi yang sudah bergejolak, di Iran.

Martha mengatakan selama hampir tiga pekan, aksi protes rakyat di Republik Islam Iran telah berkembang cepat menjadi gejolak nasional, yang mengakibatkan hilangnya banyak nyawa. 

Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Afrika pada Departemen Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian serta Operasi Perdamaian, itu mengatakan hal itu dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB mengenai Iran.

Martha menyampaikan kembali keprihatinan mendalam Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres atas laporan penggunaan kekuatan berlebihan di Iran, serta menekankan kebutuhan mendesak untuk mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.

Pemantau hak asasi manusia melaporkan terjadinya penangkapan massal di Iran terkait gelombang protes saat ini, dengan perkiraan jumlah tahanan melebihi 18.000 orang hingga pertengahan Januari 2026, meskipun PBB belum dapat memverifikasi angka tersebut.

“Kami mencatat dengan keprihatinan berbagai pernyataan publik yang mengisyaratkan kemungkinan serangan militer terhadap Iran,” ujar Martha, seraya menambahkan bahwa dimensi eksternal tersebut meningkatkan ketidakstabilan dalam situasi yang sudah sangat mudah memanas.

Ia menekankan bahwa segala upaya harus dilakukan untuk mencegah memburuknya keadaan.

Martha juga mengatakan bahwa Sekretaris Jenderal PBB menegaskan kembali prinsip-prinsip Piagam PBB, termasuk kewajiban negara-negara anggota untuk menyelesaikan sengketa melalui cara damai serta larangan ancaman atau penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional.

“Prinsip-prinsip itu bukanlah gagasan abstrak, melainkan landasan perdamaian dan keamanan internasional. Prinsip tersebut tetap relevan hingga saat ini sebagaimana pada saat Perserikatan Bangsa-Bangsa didirikan,” katanya.

Sidang darurat tersebut digelar di tengah meningkatnya ketegangan regional terkait kemungkinan serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Pejabat Iran menyebut AS dan Israel berada di balik apa yang mereka sebut sebagai kerusuhan dan aksi terorisme dalam gelombang protes tersebut. (foto: dok/ilustrasi)


Share: