ACA menentang penguatan peran senjata nuklir taktis dalam strategi AS, karena pengembangan senjata baru tersebut dapat dinilai sebagai kesiapan untuk melancarkan serangan pertama.
AS, Suarathailand- NBC News melaporkan rencana Amerika Serikat untuk memperluas penggunaan senjata nuklir taktis dalam konflik yang mungkin terjadi dapat memperumit hubungan AS dengan negara-negara pemilik senjata nuklir lainnya, serta meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik nuklir.
NBC News mengutip pernyataan Asosiasi Pengendalian Senjata (ACA), Kamis (6/8)
"Kami meyakini perubahan strategi yang diusulkan tersebut, jika menghapuskan persyaratan 'pembatasan kerusakan', maka dapat mengurangi risiko-risiko tertentu. Namun, penambahan opsi 'serangan nuklir taktis' akan memperumit hubungan pencegahan nuklir yang rapuh antara Amerika Serikat dengan negara-negara lain dengan senjata nuklir, serta meningkatkan risiko perang nuklir," kata ACA.
Asosisi itu menilai penolakan AS terhadap konsep tersebut dapat menghilangkan dasar untuk memperluas persenjataan Amerika sebagai respons terhadap pertumbuhan kekuatan militer Rusia atau China.
Selain itu, langkah itu juga dapat membuka jalan negosiasi mengenai pengurangan senjata.
ACA menentang penguatan peran senjata nuklir taktis dalam strategi AS, karena pengembangan senjata baru tersebut dapat dinilai sebagai kesiapan untuk melancarkan serangan pertama.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kepada jurnalis AS Tucker Carlson, dalam sebuah wawancara pada tahun 2024 lalu, bahwa Rusia tidak berniat menyerang negara-negara anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia terus menyoroti peningkatan kekuatan militer NATO yang belum pernah terjadi sebelumnya di dekat perbatasan sebelah barat Rusia.
Kremlin pun menyatakan Rusia tidak mengancam siapa pun, tetapi tidak akan mengabaikan tindakan yang berpotensi membahayakan kepentingannya.




