Teheran menuntut kompensasi berupa penghentian perang di semua garis depan yang melibatkan sekutunya di kawasan, serta pengakuan atas kedaulatannya terhadap Selat Hormuz.
AS, Suarathailand- Aljazeera melaporkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan tuntutan Iran agar Amerika mengakui kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, dalam perundingan yang sedang berlangsung, tidak dapat diterima.

"Pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz bukan hanya tidak dapat diterima oleh kami, tetapi juga oleh komunitas internasional. Tidak ada negara yang akan menyetujuinya," kata Marco Rubio, Senin (30/3).
Sebelumnya, Utusan Khusus AS Steve Witkoff pada Kamis (26/3) mengatakan bahwa 15 poin rencana perdamaian telah disampaikan AS kepada Iran melalui Pakistan dan mengeklaim telah mendapat "respons positif".
Namun, Kemlu Iran menilai rencana tersebut tidak realistis. Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran telah mengirimkan tanggapan resmi atas proposal AS dan kini menunggu respons dari Washington.
Dalam tanggapannya, Teheran dilaporkan menuntut kompensasi berupa penghentian perang di semua garis depan yang melibatkan sekutunya di kawasan, serta pengakuan atas kedaulatannya terhadap Selat Hormuz.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika yang berada di Timur Tengah.
Eskalasi konflik di sekitar Iran telah menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Blokade itu juga berdampak pada tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.



