Kasus Epstein, Mantan Pangeran Andrew Tetap Digeledah Polisi Inggris

Andrew ditangkap pada hari ulang tahunnya yang ke-66 pada bulan Februari atas dugaan pelanggaran dalam jabatan publik yang terkait dengan hubungannya dengan mendiang pelaku kejahatan seksual asal AS, Jeffrey Epstein.


London, Suarthailand- Mantan pangeran Andrew Mountbatten-Windsor—yang kini kehilangan status kehormatannya—memenangkan gugatan hukum terkait penggeledahan di kediaman kerajaannya setelah polisi mengakui bahwa surat perintah yang mereka peroleh adalah "tidak sah", demikian diungkapkan oleh seorang hakim Pengadilan Tinggi pada hari Kamis.

Namun, pengadilan di London tersebut masih harus memutuskan apakah polisi boleh terus menahan barang-barang yang disita dalam penggeledahan itu; baik hakim maupun polisi menegaskan bahwa penyelidikan tetap berjalan.

Saudara laki-laki Raja Charles III ini ditangkap pada hari ulang tahunnya yang ke-66 pada bulan Februari atas dugaan pelanggaran dalam jabatan publik yang terkait dengan hubungannya dengan mendiang pelaku kejahatan seksual asal AS, Jeffrey Epstein.

Ia dibebaskan pada hari yang sama setelah menjalani pemeriksaan polisi selama berjam-jam, namun statusnya masih dalam penyelidikan. Ia telah membantah melakukan kesalahan apa pun terkait dengan sosok pemodal asal Amerika tersebut.

Kepolisian Thames Valley (TVP) menggeledah mantan kediamannya di Windsor, sebelah barat London, dan di Sandringham, Inggris bagian timur, namun kini terungkap bahwa Andrew mengajukan gugatan hukum mengenai keabsahan surat perintah yang digunakan.

Dalam laporannya mengenai gugatan tersebut, *Daily Telegraph* mencatat bahwa ini adalah kali pertama seorang anggota keluarga kerajaan Inggris menggugat keabsahan proses pidana terhadap dirinya sejak pengadilan Raja Charles I pada tahun 1649.


Surat Perintah Dibatalkan

Dalam pengungkapan publik terperinci pertama mengenai langkah hukum Andrew, hakim Nicholas Hilliard pada hari Kamis mengungkapkan bahwa polisi telah mengakui "surat perintah penggeledahan tersebut tidak sah".

Namun, "fakta bahwa surat perintah penggeledahan dibatalkan tidak mengakhiri penyelidikan, ataupun berarti bahwa keseluruhan penyelidikan tersebut tidak sah. TVP tetap melanjutkan penyelidikan mereka," tambahnya.

Hilliard mengatakan ia akan memutuskan "pada waktunya nanti" terkait permohonan hukum yang diajukan polisi pada bulan Juni untuk menahan barang yang diperoleh berdasarkan surat perintah yang tidak sah, "jika penyitaan barang tersebut dapat dilakukan secara sah" di bawah surat perintah yang baru.

"Tidak ada gunanya mengembalikan barang jika kemudian barang itu bisa disita kembali secara sah berdasarkan ketentuan lain," jelasnya mengenai permintaan polisi tersebut. Dalam penetapan setebal 10 halaman, disebutkan bahwa Andrew "menentang permohonan" untuk mempertahankan barang-barang yang disita, dan sidang tertutup mengenai masalah ini akan digelar tahun depan.

Dalam sebuah pernyataan, pihak kepolisian menyatakan mereka menerima pandangan bahwa "keputusan pengadilan awal untuk menerbitkan surat perintah berdasarkan ketentuan hukum spesifik yang digunakan itu keliru, sehingga surat perintah tersebut harus dibatalkan secara hukum."


Penyelidikan Sedang Berlangsung

Namun, pernyataan itu menambahkan bahwa "proses hukum saat ini sedang berlangsung untuk memutuskan bagaimana materi yang disita selama penggeledahan akan ditangani dan apakah kami dapat secara sah menyimpannya guna mendukung penyelidikan kami yang sedang berjalan."

"Kami terus menempuh segala jalur penyelidikan yang wajar untuk memajukan penyelidikan ini secara efektif dan adil," ujar pihak kepolisian.

Pengamat kerajaan dan sejarawan Andrew Lownie mengatakan kepada AFP bahwa putusan tersebut "secara psikologis... menjadi dorongan bagi upaya pembelaan Andrew."

"Dia orang yang cukup vokal dan berapi-api; dia merasa telah diperlakukan secara tidak adil. Kini dia merasa harus melawan balik alih-alih hanya terus-menerus menerima serangan," kata Lownie.

Penangkapan Andrew dan penggeledahan oleh polisi menandai titik terendah baru bagi mantan pangeran tersebut, yang gelar kerajaannya dicabut tahun lalu dan terusir dari kediamannya di Windsor akibat keterkaitannya dengan Epstein.

Pemerintah bahkan sempat mempertimbangkan untuk mengesahkan undang-undang guna mencoret namanya dari daftar pewaris takhta.

Skandal telah melanda adik laki-laki raja tersebut sejak salah satu penuduh Epstein, Virginia Giuffre, mengklaim dalam memoarnya bahwa ia telah menjadi korban perdagangan manusia sebanyak tiga kali untuk berhubungan seks dengan Andrew saat ia masih remaja.

Mantan pangeran itu telah berulang kali membantah klaim tersebut. Ia menyelesaikan gugatan perdata yang diajukan Giuffre di AS pada tahun 2022 tanpa mengakui adanya kesalahan atau tanggung jawab hukum.

Penyelidikan polisi ini menyusul terungkapnya informasi baru dari dokumen-dokumen terkait sang pemodal asal Amerika tersebut yang dirilis oleh Amerika Serikat tahun ini, termasuk sejumlah surel yang memperlihatkan Andrew tampaknya membagikan informasi yang berpotensi rahasia kepadanya.

Share: