Jepang akan melepas cadangan minyak milik swasta yang setara kebutuhan 15 hari, dengan cadangan milik pemerintah yang setara kebutuhan satu bulan akan menyusul kemudian.
Tokyo, Suarathailand- Kyodo News melaporkan Jepang mulai melepaskan cadangan minya, Senin, untuk meredakan kekhawatiran pasokan di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan memastikan distribusi produk minyak bumi stabil, menurut laporan media lokal.
Jepang akan melepas cadangan minyak milik swasta yang setara kebutuhan 15 hari, dengan cadangan milik pemerintah yang setara kebutuhan satu bulan akan menyusul kemudian.
Pemerintah Jepang juga akan menurunkan kewajiban cadangan minimum bagi perusahaan penyulingan minyak dan perusahaan perdagangan dari 70 hari menjadi 55 hari sehingga mereka dapat memanfaatkan sebagian stok yang sudah ada.
Rabu (11/3) pekan lalu, Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi mengumumkan rencana pemerintah untuk melepas sekitar 80 juta barel minyak, yang menjadi pelepasan terbesar sepanjang sejarah.
Jumlah tersebut setara dengan 45 hari konsumsi domestik dan 1,8 kali lebih besar dibandingkan volume yang dilepas menyusul bencana gempa dan tsunami yang melanda Jepang timur laut pada 2011, lapor Kyodo News.
Persiapan juga sedang dilakukan untuk menjual minyak dari cadangan milik pemerintah kepada para pedagang grosir.
Langkah ini menandai kali ketujuh Jepang menggunakan cadangan minyaknya sejak sistem tersebut diperkenalkan pada 1970-an. Hingga akhir 2025, Jepang memiliki cadangan minyak yang setara dengan 254 hari permintaan domestik.
Jepang mengandalkan Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya, membuat negara itu sangat rentan terhadap penutupan efektif Selat Hormuz menyusul pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari. Gangguan tersebut memicu lonjakan tajam harga minyak mentah di Jepang.



