Nabi ﷺ diriwayatkan bahwa, "Seorang Muslim adalah orang yang darinya orang-orang merasa aman, dan seorang mukmin adalah orang yang dipercaya untuk mengurus jiwa dan harta orang-orang."
Suarathailand- Pernyataan iman (al-syahadat) adalah rukun Islam yang pertama dan terpenting. Iman Islam (al-iman) tidak hanya mencakup keyakinan teologis (al-aqidah) dan ritual (al-ibadah), tetapi juga karakter, moral, dan praktik spiritual.
Ulama klasik Ibnu Taimiyah menulis, “Iman dipahami sebagai penegasan, dan bukan sekadar keyakinan. Penegasan mencakup kata-kata hati, yang merupakan keyakinan, dan tindakan hati, yang merupakan tindakan.”
Bahkan Setan pun percaya akan keberadaan Sang Pencipta, tetapi “ia menjadi sombong dan menjadi salah satu dari orang-orang yang tidak beriman.” Iman sejati harus diwujudkan dalam tindakan lahiriah (pengakuan iman dan ritual) maupun batiniah (kesucian hati, kebaikan, kerendahan hati, dll.).
Ajaran para sahabat adalah mempelajari iman dari perspektif yang luas ini sebelum menghafal Al-Qur'an secara serius dan mempelajari ilmu-ilmu Islam lainnya. Sebagaimana dikatakan Jundub bin Abdullah (ra), "Kita belajar iman sebelum mempelajari Al-Qur'an. Kemudian kita mempelajari Al-Qur'an." Dan itu memperkuat iman kita.

Iman dapat ternoda oleh munculnya kemunafikan (nifaq), yaitu orang luar yang mengaku dan mengamalkan Islam tetapi memiliki sifat tidak setia, seperti tidak jujur. Seorang Muslim luar yang tidak memiliki iman dalam hatinya melakukan kemunafikan yang sangat besar yang sebanding dengan kekafiran, sementara seorang Muslim yang beriman tetapi melakukan dosa yang bertentangan dengan imannya melakukan kemunafikan yang lebih kecil, yang tentu saja merupakan dosa besar, tetapi tidak cukup untuk menghancurkan imannya sepenuhnya.
Nabi Saw bersabda: Ada empat tanda yang menjadikan seseorang munafik sejati, dan siapa pun yang memiliki salah satu dari sifat-sifat ini adalah munafik sampai ia meninggalkannya: ketika berbicara, ia berdusta; ketika berjanji, ia berkhianat; ketika berjanji, ia mengingkari; dan ketika membantah, ia jahat.
Nabi Muhammad ﷺNabi Muhammad ﷺ telah mendefinisikan Islam dan iman baik secara internal maupun eksternal. Dalam arti eksternal, Nabi ditanya oleh malaikat Jibril tentang makna Islam dan beliau bersabda, “Islam adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan bahwa itu adalah mendirikan shalat, memberikan sedekah, berpuasa di bulan Ramadan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah, jika seseorang dapat menemukan jalannya.”
Nabi Jibril kemudian bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ. Mengenai makna iman, beliau menjawab, “Iman adalah kepercayaan kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kepercayaan kepada syariat (al-Qadr), baik yang baik maupun yang buruk.”
Definisi-definisi ini menggambarkan agama menurut unsur-unsur lahiriahnya yang nyata, yaitu, praktik-praktik ibadah dan kepercayaan yang diungkapkan secara lahiriah.
Dapat dikatakan bahwa Islam dan imannya juga memiliki dimensi spiritual, yang mencakup nilai-nilai moral yang berkaitan dengan perilaku kita terhadap orang lain.
Nabi ﷺ diriwayatkan bahwa, "Seorang Muslim adalah orang yang darinya orang-orang merasa aman, dan seorang mukmin adalah orang yang dipercaya untuk mengurus jiwa dan harta orang-orang."
Dalam riwayat lain, seorang pria bertanya, "Ya Nabi Allah, Islam siapa yang paling baik?" Nabi ﷺ bersabda, "Dia yang aman dari lidah dan tangan orang-orang." Nabi ﷺ bersabda berkali-kali. Terkait dengan iman dalam Islam dengan berbuat baik kepada sesama, Nabi ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia menghormati tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berbicara dengan baik atau diam.”
Dalam riwayat lain, Nabi bersabda, “Hormatilah tetangganya,” dan dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Hendaklah ia menjaga tali silaturahminya.”
Dengan kata lain, seorang Muslim didefinisikan sebagai orang yang tidak menyakiti orang lain secara tidak adil melalui perkataan dan tindakan, yang baik kepada anggota keluarganya, tetangga, tamu, dan masyarakat pada umumnya.
Tentu saja, ketika Muslim melakukan dosa-dosa tersebut, mereka tetap Muslim dalam arti lahiriah, tetapi iman dan praktik Islam mereka akan terganggu hingga perilaku mereka sesuai dengan definisi Nabi tentang seorang Muslim dan seorang mukmin. Iman dalam pengertian ini bertambah atau berkurang sesuai dengan tingkat tindakan kita pada saat tertentu.
Jika kita melakukan dosa besar, iman kita mungkin hilang sepenuhnya pada saat itu, hingga kita bertobat.
Nabi ﷺ bersabda: Seorang pezina tidak beriman ketika ia berzina, seorang peminum khamr tidak beriman ketika ia minum khamr, seorang pencuri tidak beriman ketika ia mencuri, dan seorang perampok tidak beriman ketika ia merampok dan orang-orang melihatnya.
Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda, "Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin, maka tidak demikian keadaannya." Kemudian Ibnu Abbas ﷺ berkata, "Bagaimana mungkin iman meninggalkannya?" Ibnu Abbas berkata, "Begini." Ia menggenggam jari-jarinya dan menariknya kembali, lalu berkata, "Tetapi jika ia bertaubat, maka iman akan kembali kepadanya seperti ini." Kemudian ia menggenggam jari-jarinya. Oleh karena itu, taubat yang terus-menerus sangat penting bagi seorang mukmin.
Karena iman, seperti halnya keadaan batin dan emosi kita, dapat berubah-ubah, kita perlu terus memperbaruinya melalui ritual dan amal yang teratur.
Nabi (saw) bersabda, “Sesungguhnya iman kalian akan berkurang seperti pakaian yang lusuh, maka mohonlah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati kalian.” Umair bin Habib (ra) berkata, “Iman itu bertambah dan berkurang.” Ada yang bertanya, “Bagaimana iman itu bertambah dan berkurang?” Umair berkata, “Jika kita mengingat Tuhan kita dan bertakwa kepada-Nya, iman bertambah. Jika kita lalai, lupa, dan membuang-buang waktu, iman berkurang.”
Oleh karena itu, jika seorang Muslim berbuat dosa, berbuat dosa, dan secara umum menjadi “orang jahat,” hal itu mencerminkan lemahnya iman mereka, bukan ideal iman itu sendiri.




