Serangan dilancarkan kurang dari 24 jam setelah Israel menyerang fasilitas Natanz di Provinsi Isfahan, Iran tengah.
Teheran, Suarathailand- IRIB TV melaporkan Morteza Simiari, pakar urusan internasional Iran, Sabtu (21/3), mengatakan Iran menyerang fasilitas nuklir di Kota Dimona, Israel selatan, sebagai tanggapan atas serangan Israel terhadap situs atom Natanz milik Iran.
Serangan itu dilancarkan kurang dari 24 jam setelah Israel menyerang fasilitas Natanz di Provinsi Isfahan, Iran tengah.
Simiari menyatakan strategi "mata ganti mata" (eye for an eye) baru Iran mencakup pembalasan dengan respons resiprokal, tetapi intensitasnya lebih tinggi, terhadap setiap tindakan militer yang dilakukan oleh Israel.
Menurut pejabat medis Israel, lebih dari 30 orang terluka akibat serangan rudal Iran di Dimona.
Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) menyatakan tidak ada indikasi kerusakan pada pusat penelitian nuklir Israel di Negev pascaserangan rudal di Dimona.
"Informasi dari negara-negara di kawasan menunjukkan bahwa tidak ada tingkat radiasi abnormal yang terdeteksi," sebut IAEA melalui media sosial pada Sabtu (21/3) malam.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, terus memantau situasi tersebut dengan cermat dan menekankan bahwa menahan diri secara maksimal untuk tidak melakukan aksi militer harus dilakukan, terutama di sekitar fasilitas nuklir.
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan beberapa kota lainnya di Iran, yang menewaskan mantan pemimpin tertinggi Iran kala itu, Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta sejumlah pangkalan dan aset AS di Timur Tengah.




