Indonesia Selidiki Jatuhnya Serpihan Diduga Bagian Roket China di Kalimantan

Serpihan tersebut ditemukan pada Senin pagi oleh seorang pekerja perkebunan di wilayah Kotawaringin Kalimantan, Indonesia.


Otoritas Indonesia melakukan penyelidikan pada hari Selasa setelah sebuah benda seukuran mobil—yang menurut sebuah lembaga pemerintah merupakan bagian dari roket antariksa Tiongkok—jatuh di perkebunan kelapa sawit, tidak jauh dari permukiman dan lokasi kerja.

Serpihan tersebut ditemukan pada Senin pagi oleh seorang pekerja perkebunan di wilayah Kotawaringin Kalimantan, Indonesia, setelah penduduk setempat melaporkan mendengar suara dentuman keras pada malam sebelumnya di kawasan terpencil di provinsi Kalimantan Tengah.

"Benda itu tiba-tiba ada di sana. Awalnya, saya kira itu mungkin serpihan pesawat," ujar Wardi Tamroni kepada Agence France-Presse (AFP) mengenai penemuannya di dekat kota Sampit.

Wardi, 51 tahun, mengatakan bahwa benda tersebut jatuh sekitar tiga kilometer dari kompleks perumahan karyawan perusahaan kelapa sawit PT Agro Bukit, tempat ia bekerja.

"Kami biasanya beraktivitas di area tempat benda itu jatuh," tambahnya.

"Untungnya, semua pekerja sudah pulang, jadi tidak ada seorang pun yang berada di perkebunan saat itu."

Kepala kepolisian setempat, I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra, menggambarkan benda tersebut sebagai "lempengan aluminium yang cukup besar, dengan ukuran mencapai sembilan meter, berbentuk tidak beraturan, dan terdapat bekas terbakar".

Menurut juru bicara penerbangan sipil, Zachrudien, insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan properti.

Ia menambahkan bahwa serpihan tersebut juga tidak menimbulkan risiko radiasi atau toksisitas.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia menyatakan bahwa serpihan tersebut kemungkinan berasal dari roket Tiongkok, Zhuque-2E.

Pemerintah Tiongkok pekan lalu mengumumkan bahwa sebuah roket Zhuque-2E telah meluncurkan 10 satelit ke luar angkasa dari sebuah lokasi peluncuran komersial di wilayah barat laut Tiongkok.

Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tidak semua bagian wahana antariksa akan habis terbakar saat memasuki kembali atmosfer Bumi; komponen yang lebih tahan panas dapat mencapai permukaan Bumi.

"Fenomena ini merupakan salah satu penjelasan yang mungkin terkait ditemukannya serpihan logam berukuran besar di perkebunan kelapa sawit di Sampit," ujarnya. 

Puing-puing biasanya jatuh ke samudra yang mencakup sekitar 70% permukaan Bumi, dan Badan Antariksa Eropa menyatakan bahwa risiko jatuhnya puing tersebut menimpa seseorang di Bumi akibat masuknya kembali objek ke atmosfer secara tidak terkendali adalah "sangat rendah", meskipun risiko ini terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah peluncuran.

Administrasi Antariksa Nasional Tiongkok tidak dapat segera dihubungi untuk dimintai komentar.

Share: