Gelombang Demonstrasi Anti-Perang Guncang Seluruh Amerika Serikat

Ribuan warga Amerika turun ke jalan pada hari Minggu di beberapa kota di AS, termasuk Washington DC mengecam perang di Iran.


AS, Suarathailand- Gelombang demonstrasi anti-perang telah meletus di seluruh Amerika Serikat sebagai tanggapan terhadap perang agresi AS-Israel terhadap Republik Islam Iran.

Ribuan warga Amerika turun ke jalan pada hari Minggu di beberapa kota di AS, termasuk Washington, DC, di mana para demonstran berkumpul di dekat Gedung Putih dan Capitol AS.

Di New York City, para demonstran berbaris melewati Trump Tower, mengacungkan tanda-tanda yang menggambarkan Presiden Donald Trump sebagai "penjahat perang" dan menuntut gencatan senjata segera.

Di Los Angeles, demonstrasi besar-besaran menyaksikan ribuan orang meneriakkan protes terhadap "perang yang tak berkesudahan dan tidak bermoral." Di Chicago, para demonstran berkumpul di pusat kota dan Federal Plaza, meneriakkan, "Tidak Ada Perang terhadap Iran."

Protes serupa diadakan di Boston, San Francisco, Atlanta, Miami, Denver, Minneapolis, Las Vegas, Philadelphia, dan Seattle.

Protes juga mencapai kota-kota kecil, dengan demonstrasi dilaporkan di Akron, Aliso Viejo, Anchorage, Asheville, Baltimore, dan puluhan kota lainnya, termasuk Cincinnati, Columbia, dan San Diego.

Menurut jajak pendapat terbaru, dukungan publik terhadap perang AS-Israel saat ini di Iran telah anjlok hingga kurang dari 30% di Amerika Serikat.

Menurut kelompok-kelompok penyelenggara—Koalisi ANSWER, CodePink, dan Dewan Nasional Iran-Amerika (NIAC)—protes tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menekan Kongres dan pemerintahan Trump agar menghentikan perang ilegal yang sejauh ini telah merenggut nyawa lebih dari 1.200 orang di Iran.

Protes tersebut juga mendapat dukungan dari tokoh-tokoh politik, termasuk Perwakilan Rashida Tlaib, yang secara terbuka mengecam serangan AS-Israel terhadap Iran sebagai "provokasi perang ilegal."

Perang Israel-Amerika melawan Iran memasuki hari kesembilan pada hari Minggu, dengan warga sipil dan infrastruktur sipil menanggung beban terberat dari serangan tersebut.

Amerika Serikat dan rezim di Tel Aviv melancarkan agresi tanpa provokasi dan ilegal terhadap Iran pada 28 Februari, membunuh Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, dan beberapa komandan militer berpangkat tinggi.

Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran telah melakukan beberapa gelombang operasi pembalasan menggunakan rudal dan drone canggih.

Pangkalan militer AS di seluruh wilayah Asia Barat, serta pangkalan militer Israel di wilayah pendudukan, telah dibombardir, menyebabkan kerusakan senilai miliaran dolar, menurut laporan media AS.

Share: