Komisaris Energi UE Dan Jorgensen mengatakan UE juga mempertimbangkan penjatahan BBM untuk menghadapi potensi guncangan energi berkepanjangan.
Eropa Suarathailand- Financial Times melaporkan Uni Eropa (UE) sedang mengevaluasi semua kemungkinan untuk menghadapi krisis energi, termasuk pembatasan distribusi BBM dan pelepasan tambahan minyak dari cadangan darurat, guna mengurangi dampak konflik di Timur Tengah.
Komisaris Energi UE Dan Jorgensen mengatakan UE juga mempertimbangkan penjatahan BBM untuk menghadapi potensi guncangan energi berkepanjangan.
UE tengah menyusun rencana untuk mengatasi konsekuensi struktural dan jangka panjang dari konflik tersebut.
Menurut Jorgensen, langkah itu termasuk "mempersiapkan skenario terburuk," meskipun blok ekonomi tersebut belum sampai pada tahap perlu menjatah produk vital seperti bahan bakar pesawat (avtur) atau solar.
Saat ditanya mengenai kemungkinan pelonggaran aturan avtur untuk meningkatkan impor dari AS atau menaikkan porsi etanol dalam BBM, Jorgensen menyatakan pihaknya belum sampai pada tahap mengubah aturan yang ada.
Ia juga memperingatkan bahwa untuk sejumlah produk yang lebih vital, situasinya diperkirakan akan semakin memburuk dalam beberapa pekan ke depan.
"Kami sedang mempertimbangkan semua kemungkinan, dan semakin serius situasinya, semakin kami perlu mempertimbangkan penggunaan instrumen legislatif," katanya.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menimbulkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi konflik di kawasan itu telah menyebabkan blokade de facto Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar global.
Situasi tersebut juga memengaruhi ekspor dan produksi minyak di negara-negara Teluk serta mendorong kenaikan harga energi global.



