"Drama durian" mencapai puncaknya setelah Mendag Thailand Suphajee Suthumpun tampil dalam live bersama Pimrypie—pedagang online paling berpengaruh di Thailand—menjadi berita utama dengan mengumumkan harga promosi hanya 100 baht ($2,80) per durian.
Bangkok, Suarathailand- Siaran langsung seorang menteri yang menjual durian dengan harga rendah, yaitu 100 baht, memicu ketakutan di kalangan petani bahwa hal itu akan menurunkan nilai hasil panen mereka dan menetapkan standar pasar yang tidak berkelanjutan.

Thailand menghadapi kelebihan pasokan durian secara besar-besaran, dengan perkiraan peningkatan volume sebesar 33%, ditambah dengan krisis iklim yang telah meningkatkan jumlah buah berkualitas rendah.
Dominasi negara tersebut di pasar ekspor utamanya, Tiongkok, sangat terancam oleh Vietnam, yang dengan cepat menguasai lebih dari 40% pasar karena keunggulan logistik dan produksi sepanjang tahun.
Kritikus berpendapat bahwa pemerintah menggunakan “aksi” jangka pendek dibandingkan strategi nasional jangka panjang, tidak seperti pertanian presisi yang sukses di Belanda atau branding premium di Selandia Baru.
Solusi yang diusulkan pemerintah meliputi diversifikasi logistik ke Tiongkok Barat, investasi dalam pengolahan bernilai tambah seperti durian beku, dan pelatihan petani dalam perdagangan elektronik langsung ke konsumen.
Viralnya siaran langsung durian telah mengungkap kelemahan besar dalam kebijakan pertanian Thailand—dan menimbulkan pertanyaan mendesak tentang apakah pemerintah dapat melindungi petaninya dari badai kelebihan pasokan dan persaingan regional.
Dikenal karena aromanya yang menyengat dan teksturnya yang kaya seperti custard, durian baru-baru ini menjadi fokus wacana nasional Thailand.
Namun, perdebatan yang ada saat ini bukan berpusat pada rasanya, melainkan pada perannya sebagai ujian bagi kemampuan pemerintah dalam menciptakan solusi berkelanjutan bagi sektor pertanian negara.
Meskipun buah-buahan Thailand terkenal secara global karena kualitasnya yang unggul, kenyataannya orang-orang yang menanamnya tidak begitu manis.
Selama beberapa dekade, para petani terjebak dalam siklus predator dimana biaya produksi tinggi dan anjloknya harga musiman.
"Drama durian" yang sudah lama berlangsung ini baru-baru ini mencapai puncaknya setelah Wakil Perdana Menteri dan Menteri Perdagangan Suphajee Suthumpun tampil dalam siaran langsung bersama Pimrypie—pedagang online paling berpengaruh di Thailand—yang menjadi berita utama dengan mengumumkan harga promosi hanya 100 baht ($2,80) per durian.
Titik Nyala 100 Baht
Kisah yang seharusnya menyenangkan—seorang menteri kabinet yang bekerja sama dengan raksasa digital untuk memindahkan kelebihan stok—dengan cepat berubah menjadi masalah hubungan masyarakat.
Saat harga 100 baht diumumkan kepada jutaan pengikut Pimrypie, gelombang kejutan melanda kebun buah-buahan di Chanthaburi dan Chumphon.
Para petani menyatakan kekhawatiran mereka bahwa harga promosi yang rendah ini akan disalahartikan oleh pedagang grosir sebagai standar pasar baru, sehingga memberikan tekanan besar pada harga di tingkat petani.
Pertahanan Kementerian Perdagangan cepat namun bersifat defensif. Wakil juru bicara Koranit Nonjui mengklarifikasi bahwa promosi tersebut hanya diterapkan pada durian "kelas menengah"—buah yang sudah matang dan beraroma tetapi secara visual tidak sempurna.
Suphajee sendiri menegaskan bahwa harga adalah "teknik promosi penjualan" dan bukan cerminan nilai intrinsik.
Namun bagi banyak petani, klarifikasi tersebut terasa seperti sebuah renungan. Panusak Saipanich, presiden Asosiasi Durian Thailand, mencatat bahwa dengan biaya produksi aktual yang berkisar antara 70–80 baht per kilogram, harga eceran 100 baht hampir tidak memberikan keuntungan bagi petani setelah dipotong biaya logistik dan perantara.
Di musim yang sudah terbebani oleh volume yang tinggi, sinyal harga rendah apa pun dari pemerintah berisiko menjadi batas atas dan bukan batas bawah.
Bayangan Vietnam
Mungkin aspek yang paling serius dari analisis ini adalah memburuknya posisi kompetitif Thailand di Tiongkok—pasar ekspor terpenting Thailand.
Pada tahun 2025, ekspor durian Vietnam ke Tiongkok melonjak menjadi $3,44 miliar, sementara pertumbuhan Thailand tetap stagnan di bawah $4 miliar. Sejak awal tahun 2020, Vietnam telah menguasai lebih dari 40% pasar Tiongkok hanya dalam waktu tiga tahun.
Alasan pergeseran ini bersifat struktural. Vietnam berbatasan darat dengan Tiongkok, sehingga menawarkan keuntungan logistik yang signifikan di era tingginya biaya bahan bakar dan ketidakstabilan rantai pasokan.
Selain itu, iklim Vietnam memungkinkan produksi sepanjang tahun, memberikan pembeli Tiongkok konsistensi yang tidak dapat ditandingi oleh panen musiman Thailand. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, status Thailand sebagai pemimpin perdagangan durian yang “tidak dapat disangkal” benar-benar berada dalam bahaya.
Kekosongan Strategis: Pelajaran dari Luar Negeri
Politisi oposisi memanfaatkan "insiden Pimrypie" sebagai bukti bahwa pemerintahan taktis lebih mengandalkan "aksi" dibandingkan strategi.
Karndee Leopairote, anggota parlemen dari Partai Demokrat, berpendapat bahwa meskipun energi kewirausahaan Suphajee patut dipuji, hal ini tidak dapat menggantikan peta jalan pertanian nasional.
Karndee menunjuk pada dua tolok ukur internasional yang menyoroti hilangnya peluang yang dimiliki Thailand:
Belanda: Meskipun hanya memiliki sebagian kecil lahan di Thailand, Belanda adalah eksportir pertanian terbesar kedua di dunia. Hal ini dicapai melalui "pertanian presisi"—menggunakan AI, pemantauan tanah berbasis drone, dan logistik yang dikontrol iklim untuk memastikan bahwa setiap hektar menghasilkan nilai maksimal dengan limbah minimal.
Selandia Baru: Transformasi "gooseberry Cina" menjadi "Zespri Kiwi" premium merupakan sebuah masterclass dalam branding. Selandia Baru tidak menjual buah dalam jumlah satu ton; ia menjual produk kesehatan bermerek per unit.
Sebaliknya, Thailand masih menjadi eksportir “komoditas” yang rentan terhadap tingkah perantara dan fluktuasi peraturan perbatasan Tiongkok.
Serangan Balik Suphajee
Yang patut disyukuri, Menteri Suphajee telah menguraikan sebuah rencana yang lebih canggih daripada yang disarankan dalam berita utama sebesar 100 baht. Kementeriannya saat ini sedang menjalankan strategi "multi-front":
Diversifikasi Logistik: Bergerak melampaui penyeberangan perbatasan timur yang padat untuk menargetkan kota-kota lapis kedua di Tiongkok Barat melalui jalur kereta api dan laut baru.
Pemrosesan yang Bernilai Tambah: Berinvestasi dalam jaringan penyimpanan dingin berskala nasional dan fasilitas pemrosesan berteknologi tinggi untuk mendukung sektor buah beku; Hal ini bertujuan untuk memisahkan harga pasar dari hasil panen musiman Thailand—mulai dari durian hingga manggis dan nanas—dari kendala umur simpan yang terbatas.
Pelatihan Langsung ke Konsumen: Sebuah program nasional untuk melatih petani dalam pembuatan konten dan perdagangan langsung, yang bertujuan untuk memutus ketergantungan pada jaringan "Lhong" (perantara) tradisional.
Namun, bayangan tahun 2025 masih membayangi. Tahun lalu, pihak berwenang Tiongkok mendeteksi 'Basic Yellow 2'—pewarna industri yang bersifat karsinogenik—di beberapa pengiriman Thailand, sehingga menyebabkan harga turun drastis.
Pemerintah kini berlomba untuk menerapkan sertifikasi "Energi Bersih" dan "Nol Kontaminan" untuk mengembalikan merek "Premium Thai".
Fasilitator atau Fixer? Peran Negara
Perdebatan yang lebih mendalam di sini adalah mengenai peran negara yang tepat. Selama beberapa dekade, pemerintah Thailand terombang-ambing dalam dua hal: desakan populis untuk melakukan intervensi langsung terhadap harga dan pengakuan neoliberal bahwa subsidi semacam itu menciptakan “perangkap ketergantungan”.
Belanda dan Selandia Baru berhasil karena pemerintah mereka bertindak sebagai arsitek, bukan manajer. Mereka membangun infrastruktur berteknologi tinggi, menetapkan standar yang ketat, dan mendanai branding global—lalu mereka mundur dan membiarkan para petani bersaing.
Sebaliknya, pemerintah Thailand sering kali terpaksa bertindak sebagai “manajer krisis” dengan hanya menonton langsung TikTok ketika buah-buahan sudah membusuk di pohon.
Pada akhir April, durian kelas ekspor dijual dengan harga 135–150 baht per kilogram. Pasar belum runtuh, namun "puncak Mei – Juni" adalah ujian sesungguhnya.
Durian seharga 100 baht akan selalu menjadi penangkal petir. Di negara dimana pertanian mempekerjakan jutaan orang, siaran langsung promosi tidak pernah “hanya” sekedar latihan pemasaran; ini adalah pernyataan politik tentang apa yang pemerintah anggap bernilai bagi para petani.
Menteri Suphajee telah mempresentasikan rencana canggih yang melibatkan diversifikasi pasar dan keterampilan digital. Apakah birokrasi Thailand mempunyai kapasitas kelembagaan untuk melaksanakan hal ini—di berbagai kementerian dan dalam menghadapi gelombang Vietnam—masih menjadi pertanyaan utama.
Para petani Thailand telah menunggu lama hingga negara menjadi mitra strategis yang sesungguhnya. Saat masa panen mencapai puncaknya dan kompetisi semakin dekat, kebun buah-buahan di Chanthaburi menyaksikannya. Mereka tidak lagi tertarik dengan momen viral; mereka menunggu masa depan di mana hasil panen mereka memiliki nilai, dengan atau tanpa siaran langsung.
Krisis Pasokan yang Terjadi Bertahun-tahun
Kontroversi siaran langsung hanyalah gejala yang paling terlihat dari kelebihan struktural yang telah terjadi selama bertahun-tahun. Terpikat oleh harga yang tinggi pada akhir tahun 2010an, para petani Thailand secara agresif memperluas perkebunan mereka.
Total area penghasil durian di Thailand diperkirakan akan mencapai hampir 1,4 juta rai pada tahun 2026, meningkat 10% dari tahun sebelumnya.
Hasilnya adalah proyeksi produksi sebesar dua juta ton tahun ini—peningkatan volume sebesar 33%.
Yang memperparah “segunung buah” ini adalah krisis iklim; cuaca yang sangat panas dan kering di luar musimnya telah menghambat pertumbuhan buah. Hal ini telah mendorong persentase hasil panen yang lebih tinggi ke dalam kategori “kelas rendah”—buah-buahan yang kesulitan mendapatkan pembeli ekspor dan kini dijual melalui siaran langsung yang viral. Bangkok Post




